Selasa, 16 Juli 2019 10:59:48 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520044
Hits hari ini : 974
Total hits : 4808880
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Sejarah Bisnis Esek-esek Di Kota Surabaya Yang Mendunia






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 22 April 2019 14:05:13
Sejarah Bisnis Esek-esek Di Kota Surabaya Yang Mendunia

Foto: Ali Masduki


Surabaya - Lokalisasi di Kota Pahlawan, siapa tak kenal dengan kawasan yang berada disudut kota itu. Konon, lokalisasi pelacuran Dolly disebut-sebut yang terbesar se-Asia Tenggara. Betapa tidak, dulu sedikitnya 9.000 lebih pelacur numplek jadi satu di kawasan tersebut.

Para pria hidung belang kalangan atas hingga bawah sering kali terlihat di kawasan tersebut. Tidak hanya penduduk lokal, wisatawan asing pun datang ke sini sekadar untuk memuaskan birahi.

Lokalisasi ini hampir menyelimuti seluruh jalan di kawasan tersebut. Bahkan, Dolly lebih dikenal ketimbang kota Surabaya sendiri. Bicara soal Dolly, tak banyak yang tahu tentang bagaimana sejarah lokalisasi ini berdiri hingga bisa besar dan terkenal.

Sejarah pun mencatat, kawasan Dolly dahulu tempat pemakaman warga Tionghoa pada zaman penjajahan Belanda. Namun pemakaman telah disulap oleh seorang Noni Belanda bernama Dolly Van Mart sebagai tempat prostitusi khusus bagi para tentara negeri kincir angin itu.

Menurut informasi yang diterima keturunan tante Dolly juga disebut-sebut masih ada hingga saat ini, tetapi beliau tidak meneruskan bisnis esek-esek. Sebagai pencetus komplek lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya ini maka perempuan dengan sebutan tante Dolly itu kemudian dikenal sebagai tokoh melegenda tentang asal muasal terbentuknya gang lokalisasi prostitusi tersebut.

Menurut beberapa kisah cerita masyarakat Surabaya, awal pendiriannya, tante Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan memuaskan syahwat para tentara Belanda.

Seiring berjalannya waktu, ternyata pelayanan para gadis asuhan tante Dolly mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali. Dalam perkembangannya, gang Dolly semakin dikenal masyarakat luas.

Tidak hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di kota Pahlawan juga ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK.

Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Terdapat lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut dan panti pijat plus yang berjejer rapi.

Setidaknya setiap malam sekitar 5.000 lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo, ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan kepada para pengunjung.

Dolly juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkait menjalin sebuah simbiosis mutualisme.

Kisah lain tentang Dolly juga pernah ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dalam buku berjudul “Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly” yang diterbitkan Grafiti Pers, April 1982. Dalam buku itu disebutkan dulu kawasan Dolly merupakan makam Tionghoa, meliputi wilayah Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede. Begitu juga Noor Arif dengan karya buku “Surabaya Butuh Lokalisasi” yang di terbitkan pada bulan November 2017 lalu.

Sekitar tahun 1966 daerah itu diserbu pendatang dengan menghancurkan bangunan-bangunan makam. Makam China itu tertutup bagi jenazah baru, dan kerangka lama harus dipindah oleh ahli warisnya.

Ini mengundang orang mendapatkan tanah bekas makam itu, baik dengan membongkar bangunan makam, menggali kerangka jenazah, atau cukup meratakan saja.

Setahun kemudian, 1967, muncul seorang pelacur wanita bernama Dolly Khavit di kawasan makam Tionghua tersebut. Dia kemudian menikah dengan pelaut Belanda, pendiri rumah pelacuran pertama di jalan yang sekarang bernama Kupang Gunung Timur I. Wisma miliknya antara lain bernama T, Sul, NM, dan MR. Tiga di antara empat wisma itu disewakan pada orang lain.

Dolly semakin berkembang pada era tahun 1968 dan 1969. Wisma-wisma yang didirikan di sana semakin banyak. Adapun persebarannya dimulai dari sisi jalan sebelah barat, lalu meluas ke timur hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi salah satu aktor utama penutupan tempat-tempat lokalisasi di kawasan Surabaya. Alasannya, lokalisasi selalu menjadi muara kasus human trafficking yang kian menjadi. Dolly juga diyakini menjadi salah satu tempat perputaran uang terbesar setiap bulannya.

Sumber: jelajah nusantara

dilihat : 58 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution