Jum'at, 18 Oktober 2019 21:33:22 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 2
Total pengunjung : 520147
Hits hari ini : 1849
Total hits : 5029463
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Zimbabwe Habiskan Rp 2,1 Miliar untuk 64 Wig Para Hakim






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 07 April 2019 14:05:14
Zimbabwe Habiskan Rp 2,1 Miliar untuk 64 Wig Para Hakim

Surabaya - Pemerintah Zimbabwe mendapat kecaman dari masyarakat sebab mereka menghabiskan ribuan dolar hanya untuk membeli wig dari Inggris untuk para hakim mereka. Masyarakat mengkritik hal tersebut sebagai pemborosan uang.

Salah satu koran di Zimbabwe melaporkan, Komisi Layanan Kehakiman negara itu memesan 64 wig rambut dari Stanley Ley Legal Outfitters di London dengan biaya total USD 155.000 atau Rp 2,1 miliar lebih.

Stanley Ginsburg, pemilik Stanley Ley, mengkonfirmasi kepada CNN, perusahaannya telah menjual wig ke Zimbabwe. Namun ia mengatakan, jumlah aktual wig yang dipesan tidak jauh dari angka yang dikutip oleh koran Zimbabwe Independent.

Meskipun demikian, pengacara dan juru kampanye hak telah menyatakan kemarahan atas pembelian tersebut, dengan alasan tradisi mengenakan wig mahal merupakan salah urus pengelolaan sumber daya keuangan. Selain itu juga gagal meningkatkan akses ke layanan hukum bagi kebanyakan warga Zimbabwe.

“Tradisi wig yudisial (kolonial) berlanjut di Zimbabwe dengan semua biaya dan kontroversinya tanpa ada manfaat bagi akses ke keadilan,” kata Africa Director International Commission of Jurists, Arnold Tsunga.

Hopewell Chinono, seorang jurnalis terkemuka dan pembuat film dokumenter Zimbabwe menulis, “Saya berpendapat negara ini menderita salah urus sumber daya yang buruk. Bagaimana Anda menjelaskan pemerintah mengalokasikan USD 155.000 untuk wig yang dibeli dari Inggris ketika pemerintah yang sama juga gagal membeli perban dan betadine untuk bayi di bangsal anak.”

“Mereka adalah orang-orang yang meneriakkan tentang kedaulatan dan retorika anti-kolonial, namun mereka masih mengenakan wig kolonial yang mengerikan.”

Namun Ginsburg mengatakan, pakaian hukum tradisional memungkinkan para penegak untuk mendapatkan rasa hormat di pengadilan. “Dalam hukum, seragam itu penting, bagaimana Anda memandang hakim dan pengacara Anda,” katanya.

“Apa yang salah dengan tradisi?” tambah Ginsbutg.

Rambut palsu masih dipakai di negara-negara seperti Malawi, Ghana, Zambia, dan di Karibia. Sementara Afrika Selatan dan banyak pengadilan Australia telah meninggalkan praktik itu.fjr/red

dilihat : 449 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution