Jum'at, 24 Mei 2019 09:59:04 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 360
Total pengunjung : 506977
Hits hari ini : 1205
Total hits : 4640770
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Selama 59 Tahun Masjid dan Gereja di Kendari Berbagi Dinding






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 31 Maret 2019 11:05:28
Selama 59 Tahun Masjid dan Gereja di Kendari Berbagi Dinding

Kendari - Menjaga kerukunan antarumat beragama di Indonesia ternyata tidaklah sulit. Salah satu buktinya dapat dilihat pada dua rumah ibadah yang ada di Kendari, Sulawesi Tenggara, ini, yang dibangun dengan berbagi dinding bangunan dalam kurun waktu 59 tahun.

Jarak antara bangunan masjid dan gereja hanya dipisahkan oleh sebuah dinding yang sama. Namun, tak pernah sekali pun terjadi perselisihan antara kaum muslim dengan kaum nasrani.

Indahnya kerukunan itu dapat ditengok di Jalan Ir. Soekarno, Kelurahan Dapu-Dapura, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, tempat Masjid Dakwah Wanita dan Gereja Pantekosta Bukit Zaitun tersebut berada.

Gereja Pantekosta Bukit Zaitun dibangun terlebih dahulu pada tahun 1960. Tiga tahun berselang, giliran Masjid Dakwah Wanita yang berdiri kokoh persis di sebelahnya.

Pemimpin Gereja Bukit Zaitun; Pendeta Ir. David Agus Setiawan, MA. M. Th.; mengisahkan bahwa ada sosok gubernur pada masa itu yang menjadi pemrakarsa berdirinya masjid dan gereja secara berdampingan. Namun, ia tak ingat di era gubernur siapa.

"Jadi dia (gubernur) tunjukkan (langsung), di sini dibangun gereja, sebelahnya masjid," terang David kepada kendarinesia, Jumat (29/3).

Ia mengungkapkan, toleransi antarumat beragama sudah terjalin harmonis sejak awal pendirian gereja dan masjid itu. Puncaknya, saat pihak gereja dengan sukarela mengalirkan air untuk digunakan oleh jemaah masjid yang hendak berwudu sebelum melaksanakan salat Jumat.

"Kan gereja dibangun duluan, otomatis fasilitas sudah ada duluan. Yang paling hangat (dibicarakan) itu pompa air. Ceritanya kami sudah punya duluan, dan masjid belum punya waktu itu, jadi pengurus gereja menyiapkan selang untuk disalurkan ke masjid untuk digunakan umat muslim berwudu. Itu dilakukan sampai pihak masjid punya pompa air sendiri," jelas David.

Kerukunan antara pengurus masjid dan gereja itu terus berlanjut. Cerita lain adalah pada waktu bulan Ramadan tiba, kegiatan salat tarawih jemaah Masjid Dakwah Wanita tak berhenti selama sebulan penuh. Padahal, di sisi lain, kegiatan ibadah jemaat gereja juga ada yang bertepatan dengan jadwal tarawih.

"Kan biasanya, salat tarawih di masjid itu dimulai jam 19.30 WITA. Nah kalau pas hari Minggu, jemaat juga punya kegiatan malam, apalagi kalau kami Gereja Pantekosta kan peralatan musik full lengkap. Kalau bersamaan pastikan ribut. Untuk menghargai dan agar tidak saling mengganggu, jadi saya majukan jadwal ibadah kami pada jam 6 sore. Jadi pas selesai ibadah, dilanjutkan umat Islam melaksanakan tarawih. Dan itu kita lakukan selama bulan puasa," kata David.

Tak berhenti di situ, ada sebuah peristiwa tak terduga yang pernah membuat David merasa khawatir. Ceritanya, saat musim hujan mengguyur kota, tumpahan air hujan dari atap gereja masuk ke dalam masjid. Lantai masjid seketika itu basah.

"Waktu itu musim hujan, bangunan gereja dulunya kan memang agak lebih tinggi, jadi airnya masuk, karpet masjid basah. Kejadian itu tidak kami tahu. Nanti setelah 2 minggu terus berulang, barulah ada pengurus masjid yang menegur. Tapi negurnya juga ramah, sopan," tutur David.

Atas kejadian itu, pihak gereja lalu meminta maaf kepada pengurus masjid. Sebagai bentuk permintaan maaf, pengurus gereja memberikan seekor sapi untuk dipotong dan dinikmati bersama, tapi uniknya pemberian sapi itu sempat dianggap bahwa Gereja Bukit Zaitun ikut berkurban di Hari Raya Idul Adha.

"Kebetulan saat kami minta maaf dan membeli seekor sapi itu bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Tapi bukan mau ikut berkurban, itu cuma bentuk permohonan maaf kami saja. Tapi keesokan harinya, waktu diumumkan di toa masjid, di situ disebut salah satu penyumbang sapi kurban adalah Gereja Pantekosta Bukit Zaitun. Tapi cerita yang berkembang di masyarakat malah bagus," papar David sembari tertawa mengenang indahnya toleransi.

Kisah toleransi antar umat beragama masjid dan gereja itu berlanjut, kala pengurus masjid membantu pihak gereja mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah.

"Jadi ceritanya kami sedang membangun gereja, masih pakai dana pribadi jemaat, tiba-tiba ada pengurus masjid yang memberitahu kami bahwa ada dana bantuan yang disiapkan Pemda, hanya setiap pengurus rumah ibadah harus membuat proposal. Pengurus masjid itu bilang Pak siapkan saja proposalnya nanti saya bawa ke Pemda. Akhirnya cair dananya, dan sama-sama menambah bangunan masjid dan gereja," katanya.

Namun, ada peristiwa yang membuat David khawatir akan kelangsungan toleransi indah yang sudah dibangun lama. Ia mengingat, kala itu, isu pembakaran gereja di Jawa Timur tahun 1997 menyebar hingga ke Kendari. Ia mengaku ada rasa khawatir gerejanya akan ikut dibakar. Pihaknya saat itu meminta bantuan pengamanan dari kepolisian.

Namun hal tak terduga terjadi, para remaja masjid tanpa pernah diminta, justru ikut bergabung bersama petugas kepolisian dan berjaga-jaga di sekitar gereja.

Senada dengan Pendeta David, pengurus Masjid Dakwah Wanita, Ardi Yusuf, mengatakan bahwa selama puluhan tahun lamanya masjid berdampingan dengan gereja, tak pernah ada gesekan apa pun, baik saat melakukan ibadah maupun kegiatan-kegiatan lain.

"Alhamdulillah, toleransi di sini masih terjaga sampai sekarang," kata Ardi.

Ardi juga mengisahkan cerita indah toleransi yang pernah terjadi di sana. Kala itu, saat acara paskah yang digelar pihak gereja bertepatan dengan pengajian rutin di Masjid Dakwah Wanita. Oleh karena sudah terbiasa dengan toleransi, ibadah jemaah keduanya tetap berjalan lancar tanpa selisih paham.

"Jadi memang bertepatan kegiatannya, tapi alhamdulilah semua berjalan lancar, menjalankan ibadahnya masing-masing. Bahkan, anak-anak remaja masjid dan pengurus gereja ikut berjaga di luar," kata Ardi.

Kisah tentang remaja masjid membantu mengamankan gereja tak hanya sekali saja, tapi sudah berulang kali. Kisah populer adalah saat isu pembakaran gereja di Jawa Timur tahun 1997 menyebar hingga ke Kendari juga dibenarkan Ardi. Saat itu, dirinya masih duduk di bangku SMP dan ikut berjaga mengamankan geraja.

"Benar itu, pak, kami memang berjaga di luar gereja. Dan alhamdulillah (aksi bakar gereja) tidak sampai ke Kendari," tandas Ardi.

Ardi berharap, toleransi antarumat beragama yang terjalin mesra antara gereja dan masjid yang saling berdempetan di Kendari ini menjadi contoh untuk daerah lain di Indonesia.

"Kami membuktikan, bahwa perbedaan keyakinan tak menghalangi ibadah menurut kepercayaan masing masing. Di sini, masjid dan gereja hanya berbatas tembok, tapi tak pernah ada yang merasa terganggu. Bahkan foto masjid dan gereja ini dipasang di Kementerian Agama, sebagai simbol toleransi umat beragama," tuturnya.

Pendeta David juga menambahkan, rata-rata bangunan masjid dan gereja di Kendari jaraknya berdekatan. Menurutnya, hal tersebut membuktikan toleransi di Kendari terbangun dengan indah.

"Kalau di Kendari pak, saya rasa bangunan gereja dan masjid itu rata-rata berdekatan. Seperti Gereja DPdi Yesus Gembala dan Masjid Muqarrabun di Jalan Saranani itu juga berhadap-hadapan, terus masjid Agung Al-Kautsar Kendari juga berdampingan dengan gereja, hanya dibatas oleh jalan saja. Jadi di Kendari sangat indah toleransinya pak," tutup David.

Kunparan.com

dilihat : 432 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution