Senin, 14 Oktober 2019 20:24:38 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520138
Hits hari ini : 1562
Total hits : 5022146
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Trip Edukatif Ala Pemuda Kunjungi GPIB PNIEL Pasuruan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 26 November 2018 11:05:02
Trip Edukatif Ala Pemuda Kunjungi GPIB PNIEL Pasuruan

Pasuruan - Jelang siang, rombongan pemuda mendatangi GPIB PNIEL, Gereja Umat Kristen Protestan di Pasuruan. Bukan untuk beribadah melainkan menelusuri situs-situs cagar budaya yang ada di Kota Pasuruan.

Gabungan pemuda yang tergabung dalam Pasuruan Youth Forum ini datang dari beberapa daerah, sengaja pergi ke Kota Pasuruan untuk melawat beberapa cagar budaya di sana. Salah satunya, Anik Lailatul Muniroh, (23) perempuan asal Nongkojajar. Rekannya juga datang dari jauh, Gempol dan Rejoso. Ada pula beberapa guru sejarah yang ikut trip edukatif lawatan cagar budaya kali ini.

Memasuki gerbang gereja, senyuman Bowo (60) menyambut ramah. Ia pengurus GPIB PNIEL yang juga menjadi pemandu saat berada di salah satu gereja bersejarah di Pasuruan itu.

Berdasarkan kisah yang dilontarkannya, pada tahun 2001, kala itu terjadi huru-hara hingga gereja peninggalan Pemerintah Hindia Belanda ini dibakar massa. Bowo tak menjelaskan detail peristiwa pembakaran secara gamblang, dari raut wajahnya memang tersirat trauma yang mendalam.

“15 November 1829, gereja ini diresmikan dengan nama De Protestantse Kerk te Pasoeroean. Dulu Pemerintah Hindia Belanda mendirikan gereja ini untuk mengakomodasi umat Kristen Protestan yang ada di Pasuruan,” terang Bowo, Minggu (25/11)

Diskusi kian mengalir. Selepas itu para rombongan juga menelusuri ruang demi ruang yang ada dalam bangunan utama gereja. Tak lupa mereka berswafoto mengabadikan momen.

Nir, sapaan akrab penggagas lawatan cagar budaya ini mengaku ingin memantik semangat pemuda Pasuruan agar lebih cinta daerahnya. Ia pun tak menyangka jika kegiatan lawatan ini turut pula dihadiri perwakilan dari pemerintahan dan juga kalangan akademisi.

“Ini bagus. Setidaknya ada dukungan dari pemerintah dan berbagai lini untuk menjaga dan merawat cagar budaya di Pasuruan ini,” ungkapnya pada wartabromo.

Mungkin tak banyak yang tahu jika Pasuruan pun punya banyak sekali cagar budaya yang bisa dieksplorasi. Ia juga mengatakan, beberapa waktu lalu diperingati hari toleransi sehingga agenda ini dirasa tepat untuk menumbuhkan jiwa toleransi antar umat beragama.

“Setelah dari GPIB PNIEL, selanjutnya kita melawat ke Gereja Katolik St. Antonius Pandova, Masjid Jami’ Al-Anwar sekaligus makam KH. Abdul Hamid, Rumah Raden Nitiadiningrat, Klenteng Tjo Tik Kiong dan diakhiri dengan kunjungan ke Bipang Jangkar,” terangnya pada peserta lawatan.

Kurniawan, Kasie sejarah dan Cagar Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan yang juga ikut dalam rombongan lawatan mengatakan, masih banyak PR pemerintah dalam menata permasalahan cagar budaya kota. Seperti anggaran perawatan, yang menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan.

“Ada ratusan cagar budaya sebenarnya, dan ini menjadi aset daerah yang patut dilestarikan. Para pemuda pun harus mau dan mampu merawat aset berharga ini,” ungkapnya.

Menjelang siang rombongan pun bergeser menuju Masjid Jami Al Anwar untuk menjalankan ibadah sholat Dzuhur. Sedikit disayangkan, niat berziarah ke makam Kyai Hamid urung dilakukan, tak semua peserta lawatan bisa masuk ke sana karena jamaah yang datang berziarah ke sana sangat berjubel.

Sekitar pukul 14.00 WIB peserta lawatan telah tiba di Klenteng Tjo Tik Kiong. Semerbak aroma dupa menyeruak di hidung. Pemandu menjelaskan, Tjoe Tik Kiong ini didirikan tahun 1740. Bagi penganut Kong Hu Chu, Tjoe Tik Kiong bermakna istana yang mengamalkan dan menyebarkan rasa kasih sayang dan perbuatan kebaikan.

Trip edukasi lawatan cagar budaya ini diakhiri dengan mengunjungi pabrik Bipang Jangkar, makanan khas Pasuruan.

Khusmiati, guru sejarah SMAN Kejayan mengaku sangat senang dengan adanya kegiatan lawatan cagar budaya semacam ini. Melalui kegiatan ini juga, ia dapat menyalurkan informasi dan ilmu yang ia dapat tentang Cagar Budaya asli Pasuruan kepada para siswanya.

“Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Annisa Haq, mahasiswa yang jauh-jauh datang dari Malang juga mengaku sangat antusias dengan kegiatan ini.

“Lewat lawatan cagar budaya ini, saya bisa belajar banyak tentang sejarah dan saya tidak menyangka sebelumnya jika Pasuruan punya cagar budaya yang cukup kaya,” ujarnya. (*)

dilihat : 466 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution