Rabu, 18 Juli 2018 13:38:10 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 137
Total pengunjung : 406531
Hits hari ini : 914
Total hits : 3705995
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Sending WEC Indonesia (SWI): Menginternasional Melalui Misi Lintas Budaya






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 28 Juli 2005 00:00:00
Sending WEC Indonesia (SWI): Menginternasional Melalui Misi Lintas Budaya

Panggilan mengabarkan injil keseluruh penjuru dunia tampaknya tidak akan pernah pudar. Tugas ‘suci’ untuk mengabarkan kabar sukacita yang dibawa para missionaris ‘Bule’ (Baca Barat,-Red) ke Indonesia pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 masih meninggalkan jejak dan pesan yang jelas: Kabar baik harus dikabarkan kesegala suku bangsa. Sayang, misi baik itu acapkali terdistorsi oleh persepsi negatif terhadap ‘Barat’ di negara-negara berkembang. Problem penginjil ‘Bule’ acapkali diindentikkan dengan kolonialisasi oleh ‘Barat’ dimasa lalu.



Para Misionaris Worldwide Evangelization For Christ (WEC) Internasional yang telah bekerja hampir 30 tahun di Indonesia berhasil merubah persepsi lama yang negatif itu. Misionaris tidak indentik dengan ‘Bule’. WEC Internasional telah ‘mengubah’ karya pelayanannya di Indonesia dari obyek penginjilan menjadi subyek penginjilan. Sejak awal tahun 1995, WEC Internasional telah berhasil mendirikan Sending WEC Indonesia (SWI) dan menjadikannya lembaga yang ‘mengekspor’ misionaris Indonesia ke mancanegara.



Tidak tanggung-tangung, para missionaris SWI dikirim ke negara-negara yang tergolong ’rawan’. Negara baru akibat pecahnya Uni Sovyet di awal tahun 1990-an adalah tujuan utama.. Negara-negara Asia Tengah, Asia Timur menjadi fokus selain negara-negara Timur Tengah dan Afrika.



Adalah Seorang Warner, seorang misionaris WEC berkebangsaan Jerman, yang memulainya. Misionaris yang amat mencintai Indonesia itu telah berhasil membina anak-anak Indonesia menjadi misionaris. Ketekunan dan semangat pantang menyerahnya untuk membagikan beban dan prinsip pelayanan WEC yang dikenal dengan nama Empat (4) Tiang Rohani yang terdiri dari Iman, Kesucian Hidup, Pengorbanan dan Persekutuan telah membuahkan hasil. Belasan orang telah dikirim menjadi missionaris.



Proses kaderisasi-pun telah dilaksanakan dengan sempurna. Setelah lebih kurang 10 tahun memimpin SWI, Warner awal bulan Juni lalu telah mengalihkan tongkat estafet kepemimpinan SWI kepada pasangan suami-istri Pdt.Max D. Ay, S.Th – Pdt. Desta Lenta Zega, S.Th menjadi ketua Sending WEC Indonesia. Sebelum terpilih, Pdt. Max dan Pdt. Desta adalah missionaris SWI di Republik Kyrgyzstan- negara pecahan Uni Sovyet di Asia Tengah.



Untuk mengenal lebih dalam suka-duka menjadi seorang misionaris, wartawan pustakalewi.com mewawancarai ibu Pdt. Desta Lenta Zega, S.Th dikediamannya di seputaran Pepelegi-Waru, Sidoarjo:



Bisa diceritakan proses ibu menjadi seorang misionaris?



Kerinduan saya menjadi seorang misionaris itu berawal dari pergumulan saya di pengujung masa studi saya di STT Injili Batu, sekitar tahun 1995. Ketika tantangan akan melayani dimana diajukan oleh para pembina, bertepatan pada saat itu dikampus lagi ada kegiatan persekutuan yang mempresentasikan pelayanan lintas budaya. Pada sesi itu kebetulan negara-negara bekas Uni Sovyet juga dibicarakan. Yah, pada saat itu hati saya ‘tergerak’ untuk menjadi seorang misionaris. Kerinduan saya untuk menjadi seorang misionaris sebenarnya udah mulai tumbuh beberapa tahun sebelumnya. Tapi baru tahun 1995 ter-‘konfirmasi’. Tidak lama kemudian saya memastikan bahwa panggilan saya adalah jadi misionaris dan negara tujuannya adalah Kyrgiyzstan. Tapi saya belum tahu persis melalui lembaga mana saya akan menjadi misionaris.



Lantas, bergabung dengan WEC kapan ?



Saya bergabung dengan WEC sejak tahun 1997. Sebelumnya suami saya (Pdt. Max,-Red) sudah terlebih dahulu fokus menjadi seorang misionaris dan telah ikut dalam pelayanan WEC. Sejak tahun 1997 itu saya telah ikut pelayanan ‘deputasi’ yang bertujuan untuk mengenali perbedaan budaya, bahasa dll. Tahun 1999 kami dikirim ke Inggris untuk belajar bahasa. Tahun 2000 baru kami masuk Kirgis.



Persisnya di Kirgis didaerah mana?



Pelayanan kami di desa Ak Bulung yang terletak di Provinsi Issyukul. Dalam bahasa Kirgis, Ak itu berarti putih dan Bulung itu sudut. Artinya kira-kira dimana-mana putih. Salju ada dimana-mana. Ak Bulung letaknya 1500 meter diatas permukaan laut. Letaknya kurang lebih 6 jam perjalanan naik mobil dari Bischkek, ibu kota negara. Negara Kirgis sangat kecil. Menurut suami saya sebesar Kupang saja.. Bahasa nya dua, kirgis dan Russia.



Mayoritas penduduknya beragama apa?



Mereka mengaku muslim. Seperti Islam Kejawen disini. Perayaan hari besar kenegaraan bersamaan dengan perayaan agama.



Suka duka pelayanan?



Ketika pertama kali datang di Bischkek, kami harus berhati-hati sekali. Kami mengalami sedikit ‘teror’. Acapkali apartemen kami digedor-gedor oleh orang. Mereka sepertinya tahu kalau kami adalah pendatang. Itu di ibukotanya. Ketika kami ke desa, yang paling tidak sulit adalah menyesuaikan diri dengan iklimnya. Temperaturnya -30’Celcius. Dingin sekali! Saya pakai enam (6) baju tapi masih terasa dingin. Dari bulan Oktober sampai Mei adalah musim salju. Kalau kita keluar rumah, salju bisa sepinggang orang dewasa. Disetiap rumah ada pemanas ruangan bertenaga batubara.



Apa yang Ibu lakukan disana?



Kami membantu pelayanan gereja Baptis yang terlebih dulu ada disana sebelum membangun jemaat sendiri. Bapak melayani kaum pria dewasa dan saya mengajar anak-anak di sekolah minggu. Agar bisa lebih masuk, bapak mengajar komputer di sekolah yang ada disana. (ner/ps)

dilihat : 875 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution