Selasa, 17 Juli 2018 04:54:16 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 173
Total pengunjung : 406109
Hits hari ini : 2229
Total hits : 3701899
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -4 WNA Pembobol ATM Modus Skimming Dibekuk Polisi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 04 April 2018 17:05:45
4 WNA Pembobol ATM Modus Skimming Dibekuk Polisi

Jakarta - Kelompok pelaku kejahatan dengan modus skimming kembali dibekuk Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Empat pelaku Warga Negara Asing (WNA) ditangkap dengan waktu dan lokasi berbeda.

“Dua warga negara Bulgaria, satu warga negara Chili dan satu warga negara Taiwan di mana 4 orang ini ditangkap dalam waktu yang berbeda periode 23-30 Maret 2018,” terang Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Avinta, Selasa (3/4/2018).

Empat tersangka tersebut yakni AVH (37) dan IVN (36) Warga Negara Bulgaria, YMH (33) Warga Negara Taiwan, dan VO (35) Warga Negara Chili.

Jaringan pembobol data dan penguras uang nasabah ini terbagi menjadi tiga kelompok Pertama kelompok penyedia alat baik hardware dan software, kelompok kedua pemasangan alat dan ketiga adalah pengambil uang.

AVH ditangkap di Kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat (30/3/2018) oleh scurity ATM yang mencurigai gerak-gerik pelaku saat masuk di mesin ATM.

“Tersangka adalah pemasangan alat sekaligus juga mengambil uang,” kata Nico sembari sebut menyita beberapa barang bukti kartu ATM kosong dan uang senilai Rp18 juta.

Saat dikembangkan, polisi kembali menangkap tersangka IVN di SPBU Klaten, Jawa Tengah pada (27/3/2018). “Yang bersangkutan masuk kelompok ketiga. Kami sita juga kartu ATM siap pakai dan uang hampir Rp23 juta,” ujar Nico.

Kemudian YMH ditangkap pada (27/3/2018).di Kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Dari tangan pelaku disita beberapa kartu ATM dan uang tunai Rp12 juta.

“Lalu terakhir pada tanggal (30/3/2018), kami berhasil menangkap warga negara Chile. Dari tersangka kami menyita uang Rp12 juta,” jelas dia.

Kanit IV Subdit 3 Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kompol Rovan Richard Mahenu, menjelaskan komplotan ini saat beraksi mencari sasaran ATM yang kurang penjagaan.

Selain itu, untuk menghindari rekaman CCTV di ATM mereka selalu menutupi diri dengan topi, masker, baju lengan panjang, jaket dan membawa tas kecil untuk menyimpan peralatan atau kartu-kartu ATM.

“Kenapa mereka tutupi sluruh badan karena untuk menutupi ciri-ciri atau identitas baik itu wajah maupun identitas mereka orang bule. Lengan panjang itu untuk menutupi jika mereka ada tato. Jadi tidak kelihatan ciri-ciri mereka,” kata Rovan.

Di ATM pelaku membutuhkan waktu 10 hingga 15 menit untuk pemasangan alat skimmer dan pengambilan uang nasabah yang berhasil dibobol.

Ada tiga cara yang dipakai pelaku untuk membobol data nasabah, pertama memasang alat skimmer di depan mesin ATM, kedua memakai router dilengkapi dengan flashdisk dipasang pada kabel tepat di belakang mesin ATM untuk menginter save data router, ketiga dengan alat deepkimer yaitu menggunakan chip magnet.

Kejahatan skimming, lanjut Rovan, merupakan kejahatan transnasional crime yang terorganisir. Kelompok pertama sebagai penyedia alat merupakan orang yang berlatar belakang IT sedangkan kelompok dua dan tiga direkrut kelompok pertama.

“Perekrutan tergantung kelompok mereka kriterianya seperti apa yang menurut kelompok mereka yang loyalitasnya dan bagus karena mereka ini megang uang, ditarik, diajari terus dikirim ke sini (Indonesia) dengan fasilitas yang sudah disiapkan oleh rekan-rekan yang sebelumnya sudah ada di Indonesia,” ujar Rovan.

Dalam sekali beraksi, keuntungan mereka bervariasi tergantung uang nasabah yang ada dalam ATM yang telah dibobol. “Hasil kejahatan dikirim melalui Western Minion melalui Bitcoin. Pembagian itu kurang lebih 20 persen. Jadi ke grup mereka 20 persen, untuk penyiapan alat itu 20 persen, drawing money 20 persen, tergantung keahlian masing-masing,” tandas Rovan.

Para tersangka dikenakan Pasal 363 KUHP dan atau Pasal 46 Jo Pasal 30 dan Pasal 47 Jo Pasal 31 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Republik Indonesia No.19 Tahun 2016 atas perubahan Undang-Undang Republik Indonesia No.11 tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 3,4 dan 5 Undang-Undang Republik Indonesia No.8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang,” pungkasnya. (BJ/red)

dilihat : 37 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution