Senin, 16 Juli 2018 23:10:34 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 153
Total pengunjung : 406089
Hits hari ini : 1717
Total hits : 3701387
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Telkomsel dan Huawei Luncurkan Solusi CloudAIR 2.0






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 03 Maret 2018 17:08:27
Telkomsel dan Huawei Luncurkan Solusi CloudAIR 2.0

Jakarta - Telkomsel meluncurkan CloudAIR 2.0 di Mobile Word Congress (MWC) 2018. Solusi yang merupakan hasil kerjasama dengan Huaweis Joint Innovation Center 2.0 (JIC2.0) ini memungkinkan pembentukan ulang antar-muka udara serta efesiensi dalam hal pembagian berbagai sumber daya seperti spektrum, power, dan channel.

Pengimplementasian solusi ini akan meningkatkan efisiensi antar-muka dan memungkinkan operator untuk lebih fleksibel dalam hal pembangunan jaringan serta menyediakan pengalaman pengguna yang lebih baik. Berdasarkan uji coba di jaringan Telkomsel, solusi ini telah meningkatkan pengalaman penggunaan mobile broadband secara signifikan.

Modifikasi teknologi dalam hal spektrum telah mendongkrak kecepatan downlink LTE sebesar 116 persen dari 50 Mbps ke 108 Mbps. Selain itu, modifikasi dalam hal channel telah memperbaiki jangkauan area outdoor hingga 21.4 persen serta peningkatan pengalaman pengguna dua hingga tiga kali lebih baik untuk penggunaan di area indoor.

Dalam rilisnya, Direktur Perencanaan dan Transformasi Telkomsel, Edward Ying mengatakan, Telkomsel berkomitmen menghadirkan inovasi teknologi terdepan serta pembangunan jaringan broadband seluas-luasnya guna menghadirkan pengalaman digital yang mengesankan bagi pelanggan.

Solusi CloudAIR 2.0 sambungnya, telah membantu kami dalam mengkonvergensikan berbagai jaringan broadband, sehingga memaksimalkan kapasitas dan jangkauan yang tentunya meningkatkan pengalaman pengguna.

“Kami akan melanjutkan proyek bersama dengan Huawei ini ke Joint Innovation Center dengan harapan mampu menghasilkan inovasi yang lebih baik lagi,” terangnya kepada Beritaekspres.com, Jumat (2/3/2018).

Sementara itu, Chief Marketing Officer of Huawei Wireless Product Line Zhou Yuefeng mengatakan, pihaknya, gembira bisa bekerjasama dengan Telkomsel, operator mobile selular terbesar di Indonesia, dalam meluncurkan solusi inovatif ini.

“Fokus kami adalah meningkatkakan efisiensi antar-muka udara yang memungkinkan Telkomsel untuk memberikan layanan yang lebih fleksibel dan tentunya senantiasa meningkatkan pengalaman ratusan juta pengguna Telkomsel,” katanya.

Seiring dengan penetrasi jumlah pelanggan 4G Telkomsel, banyak pelanggan 2G yang akan bermigrasi ke 4G. Di saat yang sama, banyak juga pelanggan 2G yang tetap dijaringan tersebut, inilah yang disebut sebagai fenomena long-tail.

“Hal ini menjadi tantangan bagi Telkomsel untuk memaksimalkan spektrum ditengah keterbatasan spektrum dengan cara menjadwalkan alokasi sumber daya 2G dan 4G sesuai kebutuhan,” imbuhnya.

Saat ini lanjutnya, Telkomsel telah membangun teknologi LTE 2300 MHz, 2100 MHz, 1800 MHz and 900 MHz secara bersamaan, untuk memenuhi pesatnya pembangunan 4G tersebut, Telkomsel bekerjasama dengan Huawei mengadakan Joint Innovation Center dan memperkenalkan solusi CloudAIR 2.0, yang sukses menjawab permasalahan melalui dua teknologi yakni: modifikasi spektrum (dynamic spectrum sharing) dan modifikasi channel.

Modifikasi teknologi dalam hal spektrum mengatasi kendala yang dihadapi saat pembangunan Radio Access Technologies (RAT) yang berbeda di spektrum yang sama. Solusi ini secara dinamis mengalokasikan dan menyesuaikan spektrum berdasarkan perubahan trafik dan mencegah RAT legacy untuk menduduki golden spekrum dalam waktu lama yang berimbas pada pemaksimalan efisiensi spektrum.

Sementara tambahnya, modifikasi teknologi dalam hal channel menggabungkan keunggulan band width down link yang lebih besar dari high band dan coverage uplink yang lebih baik dari low band. Band tinggi dipilih sebagai uplink pada titik dekat dan titik tengah untuk kapasitas, sedangkan band rendah dipilih sebagai uplink di tepi sel untuk mengkompensasi cakupan band tinggi.

“Koordinasi antara LTE high band dan low band channel dapat secara signifikan memperbaiki jangkauan band tinggi dan memperbaiki pengalaman pengguna tepi sel, terutama untuk area cakupan indoor LTE,” pungkasnya. BJ/red

dilihat : 71 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution