Selasa, 17 Juli 2018 05:04:06 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 173
Total pengunjung : 406109
Hits hari ini : 2262
Total hits : 3701932
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Angka Kekerasan Seksual di Aceh Masih Tinggi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 19 Februari 2018 17:05:11
Angka Kekerasan Seksual di Aceh Masih Tinggi

Jakarta - Wakil Ketua sekaligus Ketua Tim Kunjungan Kerja Komisi VIII DPR-RI, Marwan Dasopang merasa prihatin masih tingginya kasus kekerasan seksual di Aceh, terutama dalam kasus kekerasan seksual yang terjadi pada lingkungan keluarga.

“Saya cukup terkejut, di Aceh yang biasa kita anggap sebutannya sebagai Serambi Mekkah ternyata angka kekerasan seksualnya masih cukup tinggi,” ungkap Marwan usai memimpin pertemuan Tim Komisi VIII DPR-RI yang dihadiri Wakil Gubernur Aceh dan jajaran serta mitra kerja di Kantor Gubernur Provinsi Aceh, Kamis (15/2/2018) lalu.

Pada tahun ini saja sambungnya, tertabulasi seluruh Aceh memperoleh laporan sebanyak 2000 kasus kekerasan seksual. “Ini tentunya, sangat memprihatinkan akibat perubahan perilaku di masyarakat yang dinilainya tidak sesuai dengan moral agama dan kemasyarakatan,” kata Polisiti Asal PKB itu.

Karena sebagian besar kata Marwan, tingginya kasus kekerasan seksual khususnya terhadap anak dipastikan dari lingkungan terdekat, maka saya menduga ini akibat dari kurangnya fungsi dan peranan dari pertahanan keluarga itu sendiri.

Lebih dari itu lanjut Marwan, tingginya kasus kekerasan seksual di Aceh berbanding terbalik dengan minat masyarakat Aceh yang cenderung memilih sekolah berbasis agama dalam menentukan kualitas pendidikan anak.

“Ketahanan keluarga itu salah satunya bisa didapatkan dari pendidikan moral agama. Oleh karena itu, masyarakat di Aceh ini lebih memilih Pesantren sebagai tempat menimba ilmu pendidikan bagi anak-anaknya. Tapi fakta yang kita jumpai di Aceh jumlah pesantren sangat minim dan terbatas, sehingga daya tampungnya tidak sebanding dengan tingginya permintaan,” ujar Marwan.

Komisi VIII DPR-RI, Marwan mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh untuk memperbanyak jumlah sekolah agama khususnya Pesantren di Aceh dan meminta tempat rehabilitasi yang sesuai bagi para korban kekerasan seksual.

“Kami berharap pemerintah di sini jangan hanya memikirkan hilir, lebih baik hulunya dulu. Kalau kita tadi menghitung ada keinginan membuat semacam panti rehabilitasi bagi korban, alangkah baiknya jika memperbaiki moral yang diperolah dari pendidikan agama di pesantren. Oleh karena itu jumlahnya harus diperbanyak,” imbuhnya.

Sebelumnya, dalam pertemuan itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Aceh meminta Komisi VIII DPR-RI untuk dibuatkan panti rehabilitasi. Panti rehabilitasi tersebut nantinya difokuskan sebagai pusat penyembuhan bagi para korban kekerasan seksual. Sementara itu anggaran yang dibutuhkan dalam pembangunan tersebut sebesar kurang lebih Rp30 miliar.

Sementara, Kunker Komisi VIII DPR ke Provinsi Aceh ini bertujuan untuk mendapatkan bahan dan masukan terkait kondisi faktual pelaksanaan program pembangunan khusunya di bidang Agama, Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Provinsi Aceh.

Turut serta dalam Kunker Komisi VIII DPR-RI tersebut anggota Komisi VIII antara lain Zulfadhli (F-PG), Rahayu Saraswati, Supriyanto (F-Gerindra), Siti Mufattahah, Syofwatillah Mozaib (F-PD), Asli Cahdir (F-PAN), Bisri Romly (F-PKB), Surahman Hidayat (F-PKS), dan Achmad Fauzan Harun (F-PPP). (TRA/SC)

dilihat : 105 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution