Sabtu, 15 Desember 2018 18:09:15 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 181
Total pengunjung : 450784
Hits hari ini : 1230
Total hits : 4152668
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Harpa Bawa Jessica Sudarta Harumkan Nama Indoensia di kancah International






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 09 Januari 2018 14:05:54
Harpa Bawa Jessica Sudarta Harumkan Nama Indoensia di kancah International

Surabaya,pl.com - Meski usianya masih belia namun segudang prestasi telah dicapai dan diraih oleh harpist muda berbakat asal kota Surabaya, Jessica Sudarta.

Tangan yang begitu lincah merenda dawai dengan jari lentik dalam balutan harpa. Nada demi nada lagu dari beragam aliran musik telah dimainkan oleh gadis kelahiran 24 Januari 1998 ini.

Jessica kerap tampil di berbagai event internasional sejajar dengan harpist kelas dunia lain. Tetapi, ia dikenal tetap rendah hati. “Saya ingin mengharumkan nama bangsa di mata dunia,” ucap putri pasangan Yenni Feliana dan Jefri Sudarta ini. Panggung besar pernah ia rasakan, sebut saja Jazz Harp Workshop Hongkong, bersama the Amadeus Light Orchestra dalam perayaan Hari Keluarga Nasional (2014), World Harp Congress 2014 di Sydney bersama the Harp Ensemble of Harp Chamber Hongkong, Kaleidoskop 3 Generations of Indonesian Harpists di Surabaya dan Jakarta (Agustus 2014) tampil bersama Rama Widi, Maya Hasan dan Lisa Gracia. Dan turut berpartisipasi dalam event Jazz Prambanan 2017.

Berbagai event sosial pun seperti penggalangan dana UNICEF dan penggalangan dana Papua juga dijalankan oleh sulung dari tiga bersaudara ini.

Tahun 2017 lalu alumnus Alumnus SMA Petra 1 Surabaya ini menggetarkan ajang World Harp Congress 2017 di Hongkong, berkolaborasi bersama jajaran harpist- harpist kelas dunia serta charity Cancer Awareness concert di Surabaya pada 21 Juli 2017 lalu.

“Kebetulan di World Harp Congress Hong Kong, Jessica mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia, dan satu-satunya harpist Indonesia yang tampil di sana,” papar sulung dari tiga bersaudara ini.

Seringkali menghibur di acara sosial, hatinya pun mudah sekali tersentuh. Menurut gadis 19 tahun tersebut, ia sangat menikmati tatkala menghibur kakek nenek penghuni panti jompo. “Pada saat itu saya melihat mata kakek nenek yang seakan kosong, menjadi ceria ketika mendengar alat musik yang saya mainkan,” imbuh pencinta rawon itu.

Meskipun menempuh pendidikan di Universitas Johns Hopkins, Amerika Serikat, Jessica tak pernah melupakan jiwa nasionalisme yang ditanamkan orangtuanya sejak kecil. Bahkan lewat petikan harpa ia piawai memainkan lagu-lagu daerah ketika tampil, seperti “Gundul-gundul Pacul”, “Bengawan Solo”, “Yamko Rambe Yamko”, “Rek Ayo Rek” dan “Tanjung Perak Tepi Laut”.

Jessica mencoba mengingatkan serta menyatukan saudara sesama bangsa Indonesia melalui nada, guna mengembalikan sebuah semboyan bahwa mereka satu NKRI. Membangkitkan darah perjuangan yang dulu pernah ada. Arti penting persatuan bagi dara cantik berambut panjang ini adalah rasa saling gotong royong, kita adalah bangsa yang satu.

“Sejak kecil ditanamkan, jangan sampai luntur. Harpa adalah sebuah alat untuk mewujudkan cita-cita saya mengharumkan nama bangsa,” terang penggemar olahraga, menyanyi, dan menggambar ini.

Penampilan-penampilannya inilah yang membuat Jessica mendapat undangan tampil di berbagai tempat. Jessica telah mengisi masa remajanya dengan banyak prestasi. Dia merupakan salah satu dari sedikit pemain harpa di tanah air. Jessica tak sekadar bermain harpa, tapi juga dapat menjelaskan seluk-beluk alat musik berbentuk busur ini kepada penonton.

Prestasinya tak lepas dari peran orangtua yang mendukung dan mengarahkan bakatnya di bidang musik sejak di bangku Taman Kanak-kanak. Sekitar umur empat tahun, ia sudah ikut les piano. Tapi menginjak remaja mulai fokus ke harpa. Berinteraksi dengan harpa sejak usia 13 tahun, Jessica menyebut harpa sebagai sebuah alat musik yang unik dan masih jarang di Indonesia.

“Harpa selain alat musik unik dan klasik memiliki tingkat kesulitan yang cukup lumayan, maka tak banyak anak muda ingin belajar harpa, namun justru hal ini yang menarik perhatian dan mendorong saya untuk menekuni secara serius,” urai Jessica. Namun, kendala pada saat awal belajar harpa adalah tidak adanya guru harpa di Surabaya, adanya di Jakarta. Mau tidak mau, ia harus bolak-balik Surabaya-Jakarta untuk belajar harpa.

Jessica menjadi murid pertama Rama Widi, salah satu harpist terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Namun kesulitan lainnya, gurunya sering tidak ada di tempat karena berkeliling berbagai negara untuk konser dan sebagainya. Solusinya mereka berkomunikasi lewat internet (Skype). “Kak Rama memang sering konser ke luar negeri, agar tetap bisa belajar dengannya, saya berkomunikasi lewat Skype. Beliau memberikan masukan dan bimbingan kepada saya tentang teknik bermain harpa yang benar. Saya memainkan harpa, kemudian beliau memberikan koreksi dan arahan. Sistem belajar jarak jauh ini sampai sekarang masih saya lakukan,” jelasnya.

Menjadi luar biasa harus bekerja keras, dengan pengorbanan orangtuanya yang luar biasa mulai membelikan harpa yang tidak murah harganya, menemaninya kemana-mana untuk kursus musik, konser dan kegiatan lain. Jessica terus belajar dari para seniornya para harpist terkenal dunia atau para guru harpist terkenal seperti Isabel Moretti, Maria Luisa, Remy Van Kesteren dan lainnya.

Kini peraih juara pertama Best Saint Saens Performance 2017 ini juga punya kesibukan lain dengan mendirikan Yayasan Symphony Of Heaven, sebuah yayasan non profit yang berisakan orang-orang yang memiliki hati untuk melayani untuk memberikan pengajaran kepada anak-anak sekolah dasar (SD) untuk belajar musik dan Bahasa Inggris.

Jessica pun mengaku nggak ada yang lebih indah dari berbagi dengan orang-orang. Karena dia sadar betul setiap manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan. Itu sebabnya Lewat tagline Dari dan Untuk Indonesia (Love For Indonesia) Jessica bersama Symphony Of Heaven punya beban besar untuk membantu orang-orang yang terbatas, khususnya untuk memberikan pengajaran ke anak-anak yang tinggal di daerah-daerah terpencil. mwp

dilihat : 244 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution