Rabu, 18 Juli 2018 13:58:14 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 140
Total pengunjung : 406534
Hits hari ini : 1010
Total hits : 3706091
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Dialog Dengan Budayawan, Puluhan Pendeta GKI Sambangi Desa Gumirih Banyuwangi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 23 November 2017 08:14:11
Dialog Dengan Budayawan, Puluhan Pendeta GKI Sambangi Desa Gumirih Banyuwangi

Banyuwangi - Puluhan pendeta dari Gereja Kristen Indoensia (GKI) se-Jawa Timur berkunjung ke Desa Gumirih, Kecamatan Singonjuruh, Kabupaten Banyuwangi, Rabu (22/11/2017), untuk melakukan dialog dengan budayawan Singonjuruh terkait adat, tradisi, dan seni budaya yang masih bertahan dan berdampingan harmonis dengan agama.

Bukan hanya berdialog, para pendeta juga menyaksikan dan ikut menari Paju Gandrung sebagai tarian khas dari Banyuwangi.

Diah, pendeta GKI Banyuwangi, mengatakan kepada Kompas.com, dipilihnya Banyuwangi sebagai tempat konven pendeta se-Jawa Timur karena toleransi di sana sangat baik. Selain itu, tidak pernah terjadi konflik agama, termasuk konflik dengan tradisi, seni, dan budaya yang ada.

"Dari puluhan festival yang digelar banyak seni tradisi dan budaya yang ditampilkan, tapi tetap berdampingan dengan agama. Ini cukup menarik karena seni, tradisi, dan budaya ternyata menjadi simpul-simpul kecil untuk menyatukan perbedaan di Indonesia," ujar pendeta Diah.

Hal senada juga diungkapkan Sutedjo (80), pendeta asal Surabaya, yang mengakui kagum dengan toleransi yang ada di Banyuwangi, termasuk juga bagaimana pelaku tradisi yang masih menjalankan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi tetap memegang teguh keimanannya.

"Saya mencontohkan seandainya semakin banyak gereja yang juga melibatkan kesenian di sekitarnya. Seperti saat beribadah menggunakan pakaian adat atau memainkan alat musik tradisional," ungkap dia.

ementara itu, Muhammad Lutfi, Camat Singonjuruh, menjelaskan, banyak budaya dan adat tradisi yang masih dilestarikan di wilayahnya. Dia mencontohkan tradisi Baritan atau selamatan kampung yang diadakan setahun sekali. Semua masyarakat, baik yang beragama Islam maupun bukan, ikut berdoa bersama sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing.

Bukan hanya Baritan, ada juga tradisi Kebo-keboan di Singonjuruh yang sudah berusia ratusan tahun dan masih dilestarikan hingga saat ini. "Tradisi tersebut adalah kepercayaan kepada para leluhur, tetapi masyarakat yang juga penganut agama yang taat tepat menggelar Kebo-keboan dan selama ini semua baik baik saja berjalan bersamaan tanpa pernah bersinggungan. Hal tersebut yang ingin kami bagikan dengan para pendeta yang datang hari ini," jelas Lutfi.

Mereka menutup dialog tersebut dengan doa bersama dan menyanyikan lagu "Satu Nusa Satu Bangsa" dan "Indonesia Pusaka".

Selain melakukan dialog, mereka juga menikmati makanan khas selamatan masyarakat Singonjuruh, seperti pecel pitik dan geseng bangsong, yang biasanya hanya keluar setahun sekali pada saat selamatan atau hari raya Idul Fitri dan idul Adha. kmp/red

dilihat : 147 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution