Senin, 16 Juli 2018 02:09:37 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 182
Total pengunjung : 405925
Hits hari ini : 3105
Total hits : 3698929
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kelompok Bersenjata di Papua Sandera 1.300 Warga Dua Desa






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 10 November 2017 20:08:07
Kelompok Bersenjata di Papua Sandera 1.300 Warga Dua Desa

Jakarta - Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, diduga motif kelompok kriminal bersenjata (KKB) menyandera warga di Papua karena motif ekonomi. Kelompok tersebut memanfaatkan hasil kerja warga di sana yang rata-rata bekerja sebagai pendulang.

“Keliatannya KKB ini kan sudah mendapatkan nilai ekonomi dari situ dengan menguasai daerah situ sehingga ini ingin mempertahankan. Ini dari sudut ekonominya,” terang Setyo di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Jumat (10/11/2017).

Namun sambungnya, tidak menutup kemungkinan ada motif lain dari kelompok bersenjata itu. Hingga saat ini, belum diketahui maksud utama penyanderaan ini karena upaya komunikasi belum juga bisa dilakukan dengan pimpinan kelompok.

“Kami kan belum bisa mendalami motifnya karena tidak ada komunikasi yang intens dengan pihak KKB,” kata Setyo.

Menurutnya, Satgas terpadu yang terdiri dari Polri dan TNI mencoba berkomunikasi dengan pimpinan KKB untuk mengetahui apa keinginan mereka. Namun, kelompok itu tidak membuka ruang komunikasi. Padahal, upaya negosiasi dilakukan agar tidak timbul korban yang lebih banyak.

Saat ini, kata Setyo, hanya perempuan yang diberi akses ke luar kampungnya untuk berbelanja bahan makanan. Namun, laki-laki tidak diberikan akses dan dilarang keluar dari wilayah tersebut.

“Sampai sejauh ini komunikasi yang kita dapatkan warga masih baik-baik saja. Memang secara fisik mereka tak mendapatkan kekerasan, tapi secara psikis orang dilarang dibatasi kan ada,” kata Setyo.

Setidaknya ada 1.300 orang dari dua desa, yakni Desa Kimbely dan Desa Banti, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, yang dilarang keluar dari kampung itu oleh kelompok bersenjata. Mereka tinggal di lokasi yang berdekatan dengan area Freeport.

Saat ini, Polri bersama unsur TNI berupaya melakukan langkah-langkah persuasif dan preventif agar masyarakat bisa terbebas dari intimidasi dan ancaman kelompok bersenjata. (***)

dilihat : 120 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution