Rabu, 18 Juli 2018 13:59:52 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 140
Total pengunjung : 406534
Hits hari ini : 1019
Total hits : 3706100
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kekerasan Seksual Perempuan dan Anak Masih Tinggi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 23 Oktober 2017 20:05:22
Kekerasan Seksual Perempuan dan Anak Masih Tinggi

Jakarta - Kekerasan terhadap perempuan dan anak menempati urutan pertama, bahkan saat ini Indonesia berada pada darurat kekerasan. Data menujukkan bahwa empat tahun terakhir pada 2014 sampai 2017 ini kasus kekerasan seksual terhadap anak mencapai lebih dari 50 persen dari seluruh kasus kekerasan yang ada, Senin (23/10/2017).

Berdasarkan catatan tahun 2017 Komnas Perempuan, ditemukan data ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2016 yang terdiri dari 245.548 kasus bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani 359 Pengadilan Agama (PA) serta 13.602 kasus yang ditangani 233 lembaga mitra pengada layanan yang tersebar di 34 Provinsi.

Data perkosaan juga menunjukkan sebanyak 135 kasus dan menemukan bahwa pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah KDRT/personal adalah pacar sebanyak 2.017 orang. Kekerasan di ranah komunitas mencapai angka 3.092 kasus (22%), dimana kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 2.290 kasus (74%).

Dan diikuti kekerasan fisik 490 kasus (16%) dan kekerasan lain di bawah angka 10% yaitu kekerasan psikis 83 kasus (3%), buruh migran 90 kasus (3%) dan trafiking 139 kasus (4%). Jenis kekerasan yang paling banyak pada kekerasan seksual di ranah komunitas adalah perkosaan (1.036 kasus) dan pencabulan (838 kasus).

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR-RI, Iskan Qolba Lubis mengatakan, bahwa sampai saat ini masih adanya kekosongan hukum yang menjadi celah kriminalisasi dan reviktimisasi yaitu, penderitaan, baik secara fisik maupun psikis atau mental berkaitan dengan perbuatan pihak lain.

Lebih lanjut Iskan menegaskan, bahwa belum tersedianya mekanisme pemulihan dalam makna luas bagi korban, serta belum tersedia mekanisme untuk memastikan pelaku tidak mengulangi perbuatannya dan menghapuskan rantai impunitas pelaku.

“Sehingga pembentukan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ini perlu segera hadir untuk menjawab berbagai persoalan yuridiis dimana sejumlah peraturan perundang-undangan yang tersedia dirasakan belum sepenuhnya mampu merespon fakta kekerasan seksual yang ditemukan,” ungkapnya.

Politisi PKS ini juga berharap RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ini harus bisa menjadi solusi atas permasalahan kekerasan seksual yang terjadi saat ini dan ke depannya. “Persoalan ini harus segera disikapi,” pungkasnya. (SKR/SC/OSS)

dilihat : 118 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution