Sabtu, 19 Oktober 2019 09:43:41 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 2
Total pengunjung : 520149
Hits hari ini : 621
Total hits : 5030214
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Merawat Kebhinekaan, di Tengah Intoleransi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 22 Januari 2017 15:06:20
Merawat Kebhinekaan, di Tengah Intoleransi

Surabaya,pl.net - Puluhan anak muda yang tergabung dalam kelompok Cipayung yaitu PMKRI, GMKI, PMII, GMNI, Oikmas GKI, Pemuda Katolik dan jaringan lintas iman Surabaya menggelar acara diskusi kebangsaan, Sabtu, 21 Januari 2017, pukul 20.00 di markas PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) di jln. Taman Simpang no. 4a Surabaya.

Topik yang dibahas adalah “Masa Depan Bhineka Tunggal Ika: di Tengah Potret Intoleransi. Dengan narasumber yaitu Andreas Kristianto (Oikmas GKI Jatim), Agnes Dwi Risjuwati (Alinasi Nasional Bhineka Tunggal Ika), Vinsensius Awey (DPRD kota Surabaya)

Andreas Kristianto mengungkapkan, “Gerakan intoleransi begitu menguat karena dibarengi dengan isu isu politik dan ekonomi. Biasanya menjelang pilkada kelompok fundamentalisme menjadi virus yang menjalar di tubuh NKRI. Justru praktik diskriminasi terjadi karena impotensi pemerintah dalam menegakkan konstitusi.” “Nasionalisme, agama dan kemanusiaan harus menjadi nafas dalam hidup di negara ini, tegas Andreas.

Penelitian Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika mengungkapkan bahwa praktik diskriminatif bisa terjadi kepada siapa saja. Di Kupang yang mayoritas Kristen pun juga melakukan praktik intoleransi, ketika kelompok Islam mendirikan masjid/ mushola. Agnes Dwi Rusjiyati menegaskan, 500 ribu orang siap untuk menebarkan paham radikalisme di Indonesia ini. Dari tahun 2004 – 2010, terdapat 4000-an tempat ibadah yang disegel, ditutup dan dibakar oleh kelompok garis keras/ kelompok intoleran.

Bahkan di Lombok Timur, ada kelompok Ahmadiyah yang diganggu saat sholat tarawih. Pengusiran tersebut dilakukan oleh aparat desa. Dipaksa untuk konversi keyakinan dan keluar dari Ahmadiyah, tegas Agnes.

Vinsensius Awey mengatakan, “Kelompok intoleran begitu menguat karena kesejahteraan rakyat belum tercukupi dengan baik. Urusan perut masih kurang diperhatikan. Kalau pembangunan ekonomi merata dan adil niiscaya rakyat hidup toleran dan harmonis.” “Di tambah lagi, korupsi menjalar di pejabat pejabat publik, yang nota bene adalah pemimpin rakyat,”tutur Awey.

Irianto yang mewakili Keuskupan Surabaya mengungkapkan, “Hanya dengan berjejaring dan berkolaborasi sebagai anak bangsa, belenggu-belenggu fundamentalisme, teror dan kekerasan dapat dicegah sebaik mungkin. Hanya dengan menghidupi kemerdekaaan dan menggelorakan semangat nasionalisme, kita menjadi pionir mengusung perdamaian di negeri ini,” tutur Irianto.

Acara ini dihadiri oleh aktifis Cipayung, pemuda katolik, Oikmas GKI, BEM mahasiswa dan Keuskupan Surabaya. Di akhir acara kita menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa untuk perdamaian dan toleransi anak bangsa.AK/red/mwp

dilihat : 445 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution