Jum'at, 17 Agustus 2018 20:54:24 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 116
Total pengunjung : 414102
Hits hari ini : 2231
Total hits : 3795065
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Hari Bumi, Megawati Usul Rakyat Menyepi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 13 Oktober 2016 21:18:51
Hari Bumi, Megawati Usul Rakyat Menyepi

Nusa Dua – Presiden ke-5 RI Megawati Soekarno Putri mengusulkan dunia mengadopsi budaya masyarakat Bali melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan menerapkan satu menit hening di Hari Bumi.

“Penduduk Bali sangatlah heterogen, terdiri dari berbagai suku, agama, dan ras, bahkan ada yang berwarga negara asing tinggal di Bali. Mayoritas rakyat Bali memeluk agama Hindu, dan salah satu hari besarnya adalah Nyepi yang dirayakan tidak dengan pesta pora, tapi dengan penuh keheningan,” kata Megawati pada pembukaan World Culture Forum (WCF) 2016 di Nusa Dua, Kamis.

Ia mengatakan masyarakat Bali yang memeluk agama Hindu, pada perayaan Nyepi melakukan Catur Brata Penyepian dengan menjalankan amati geni (tidak menyalakan api), amati lelanguan (tidak berkegiatan), amati karya (tidak bekerja), dan amati lelungan (tidak bepergian).

Bali, lanjutnya, adalah satu-satunya pulau di dunia, yang mampu “mengistirahatkan bumi” sehari penuh, secara total di setiap perayaan Nyepi.

“Sungguh indah, keheningan Nyepi di Pulau Bali, alam pun melebur pada diri setiap manusia, manusia menyatu dengan semesta dalam jeda setiap individu. Hening, senyap, suci, kesemuanya mengajak kita untuk melakukan introspeksi personal,” ujar dia.

Menurut dia, seandainya dapat direkomendasikan dalam forum tersebut, suatu kesepakatan kebudayaan mendukung gerakan satu menit hening dalam Hari Bumi. Makna pada Hari Bumi tersebut, dapatlah diperluas sebagaimana Hari Raya Nyepi.

Dengan demikian, jeda individu, menjadi jeda kolektif, dan selanjutnya, menjadi jeda dunia.

“Dengan satu menit hening bagi seluruh umat manusia di dunia, setiap tahun, saya yakin kita bisa membuktikan, bahwa ternyata modernisasi tidak akan mampu menenggelamkan manusia. Kemajuan tekhnologi tidak akan sanggup menjadikan manusia menjadi mahluk mekanik yang teralienasi dan teratomisasi,” paparnya.

(ris/Ant/dln)

dilihat : 126 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution