Selasa, 17 Juli 2018 14:50:37 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 109
Total pengunjung : 406229
Hits hari ini : 950
Total hits : 3703125
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Darurat Kekerasan Seksual Perlu Disikapi Tokoh Agama






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 29 Juni 2016 15:00:35
Darurat Kekerasan Seksual Perlu Disikapi Tokoh Agama

Surabaya, PL.Net Kondisi Indonesia yang disebut-sebut mengalami kondisi darurat kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perlu disikapi secara tepat oleh para tokoh agama, terutama gembala, pendeta,, dan hamba Tuhan. Selain itu dituntut pula peran mereka dalam ikut mencegah dan mengurangi berbagai kasus kekerasan seksual.

Badan Musyawarah Antar Gereja [BAMAG] Kota Surabaya melihat masalah ini sudah sangat mendesak dan perlu dibahas bersama, setidaknya inilah yang menjadi latar belakang seminar hukum BAMAG Surabaya bertajuk "Indonesia Darurat Kekerasan Seksual terhadap Anak". Seminar diadakan di ruang utama GBI Diaspora Sejahtera Surabaya di kawasan Prapen pada Senin siang [20/06].

Forum yang mendapat antusiasme cukup luas di kalangan hamba Tuhan dan aktivis gereja ini menghadirkan dua narasumber utama, Edward Dewaruci, SH, MH dari Surabaya Children Crisis Center [SCCC] dan Dra. Srisiuni Sugoto, M.Si, Ph.D dari Fakultas Psikologi Universitas Surabaya [Ubaya].

Pada kesempatan pertama Srisiuni Sugoto dalam kapasitasnya sebagai praktisi sekaligus akademisi memberikan pemahaman ringkas tentang apa dan bagaimana sebenarnya kekerasan seksual terhadap anak. Menyampaikan presentasi berjudul "Sadar dan Cegah Kejahatan Seksual terhadap Anak", Srisiuni mencoba memberikan dimensi-dimensi kejahatan seksual terhadap anak yang cukup beragam.

"Setiap anak dimungkinkan menjadi korban, bukan hanya anak yang cantik, pelakunya juga mungkin dari orang dekat atau orang yang dikenal bersikap baik, dan jika anak mengalami kejahatan seksual lebih sering ia akan takut untuk bicara kepada orangtuanya," terangnya.

Mulai dari aspek pengasuhan [parenting], pengenalan organ-organ tubuh intim kepada anak, pengaruh lingkungan, sampai pada sisi perkembangan psikologis disebut sebagai faktor-faktor yang sangat penting bagi sang anak.

Sementara itu, Edward Dewarci dengan segudang pengalamannya dalam menenagani anak yang berhadapan dengan hukum, menyebutkan bahwa ada satu aspek lagi yang harus dipahami, terutama oleh para hamba Tuhan, yakni fungsi dan tanggungjawab negara menciptakan situasi lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak.

"Dalam konteks kekerasan seksual terhadap anak, negara harus memberikan instrumen perlindunga, baik lingkungan, regulasi, sampai kepada aspek kepastian hukum," tegas mantan komisioner KPU Kota Surabaya ini.

Aspek terakhir, kepastian hukum disebutnya sebagai hal yang belum optimal terwujud. Berbagai regulasi perlindungan hukum memang sudah banyak, namun implementasi di lapangan masih bermasalah.

Disebutnya juga bahwa beberapa kasus kekerasan seksual yang muncul akhir-akhir ini adalah imbas dari belum adanya intrumen hukum yang komprehensif lima tahun yang lalu. Data terakhir yang dikutipnya juga menyebutkan bahwa setiap hari, rata-rata terjadi 35 kasus pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak.

Tingginya kasus pelecehan ini juga kita rasakan di dalam konteks lokal Surabaya. Kasus pelecehan di Kalibokor, Benowo, dan munculnya dugaan pelecehan yang dilakukan oleh seorang oknum hamba Tuhan di daerah Kapas Krampung merupakan beberapa kasus yang menjadi indikasi tingginya kasus yang disebutnya sebagai "penyalahgunaan alat reproduksi yang tidak pada tempatnya" ini di masyarakat.

Kedua narasumber sepakat bahwa dalam konteks permasalahan ini, para tokoh agama baik yang melayani di mimbar maupun yang melayani dalam dunia sosial punya peran besar. Bukan hanya menyikapi dan mengoreksi berbagai bahaya moral di masyarakat ini, tapi juga bisa menjadi saluran informasi yang benar dan tepat dalam pengenalan kesadaran seksualitas, terutama dalam keluarga. (sav)

Foto: Dok. BAMAG Surabaya

dilihat : 356 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution