Selasa, 17 Juli 2018 20:57:15 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 171
Total pengunjung : 406291
Hits hari ini : 1925
Total hits : 3704100
Pengunjung Online : 10
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Sejarah Ringkas GKJW Jemaat Purwoharjo Kediri
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 28 Juni 2016 13:19:28
Sejarah Ringkas GKJW Jemaat Purwoharjo Kediri

1. Sejarah Jemaat

Nama Purwoharjo diambil dari nama dusun tempat jemaat ini berada. Nama Purwoharjo sendiri memiliki latar belakang yang menarik. Pada tanggal 10 Agustus 1993, ada sebuah musyawarah Desa Sidorejo, Kec. Pare, Kab. Kediri yang dipimpin Kepala Desa, Bp. Waskitho yang merumuskan nama tersebut. Purwoharjo berasal dari kata purwo dan harjo, purwo berati "yang pertama‟ atau "wiwitan", sedangkan harjo berarti "redjo" atau "ramai‟. Sehingga Purwoharjo berati "Wiwitan atau pertama yang sudah rejo atau ramai", atau "sebuah awalan yang ramai‟

Nama tersebut diambil dengan mengingat sejarah permulaan Desa Sidorejo yang dimulai dengan adanya pembukaan lahan Persil Bongkor Grojogan. Tidak jelas kapan tanggalnya, tetapi pembukaan lahan tersebut dilakukan oleh 27 kepala keluarga Kristen yang berasal dari Desa Kertorejo, Bongsorejo, Mojowarno dan Mojokembang, Kabupaten Jombang yang dipimpin oleh Bp. Marwi Kertowirjo. Mereka diperkenankan membuka lahan karena mereka bukan golongan bromocorah, bukan pencandu dan bukan penjudi. Ini adalah sebuah gagasan dari pihak gereja yang didukung Kyai Lewi, Guru Injil Sabirejo-Pare dan Kyai Silpanoes Djati Anom, Guru Injil Segaran Wates, yang berharap bahwa mereka yang membuka lahan itu memiliki masa depan yang cerah, terhindar dari gangguan kejahatan, pecandu dan penjudi.

Terlebih lagi mereka termasuk dalam keluarga- keluarga miskin, sebab rumah yang mereka tinggali sangat sederhana dengan bermodalkan seadanya seperti pagar bambu bekas pagar kopi dan alang-alang sebagai atap. Setiap minggu dan hari-hari tertentu mereka mengadakan kebaktian di sebuah Loji Bekas Persil Kopi yang berada di sebelah utara jembatan sungai Toyo Aning atau Lor Kali [kini hanya tersisa sebuah sumur sebagai penandanya]. Mereka hidup berkelompok dan menempati bagian utara desa Sidorejo. Maka pantasalah jika dusun ini disebut Purwoharjo, sebab permulaan ramainya desa ini bermula ketika banyak orang berbondong-bondong tinggal di bagian utara desa ini. Kemudian dari komuitas ini ini berkembang menjadi sebuah Jemaat Sidorejo yang sangat besar.

Pada tanggal 23-28 Juni 1994, Majelis Agung [MA] mengadakan Sidang ke-83/1994 di GKJW Jemaat Rejoagung - Jember yang menyebutkan bahwa, jemaat-jemaat besar perlu dipencar. Pemencaran tersebut perlu dilakukan karena beberapa alasan berikut. Pertama, jemaat yang besar dan luas menyulitkan pelayanan dan dan pembinaan yang efektif bagi warga. Kedua, konstalasi pertenagaan GKJW telah memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan jemaat. Ketiga, perlu pemfungsian tenaga pendeta dalam perkembangan GKJW di segala bidang. Kemudian ditunjuklah jemaat Sidorejo sebagai jemaat yang perlu untuk dilakukan pemencaran di Wilayah Majelis Daerah Kediri Utara saat itu.

Saat itu GKJW jemaat Sidorejo merupakan sebuah jemaat Desa Kristen yang sangat besar dengan 1.305 kepala keluarga dengan jumlah warga 4.918 jiwa yang terbagi dalam satu induk dan 9 pepanthan. Jemaat sebesar itu hanya dilayani oleh seorang pendeta, yakni Pdt. Harifin Widayat, Sm.Th. sehingga pelayanan dan pendampingan pada warga menjadi sulit dan kurang efektif. Menghadapi hasil sidang MA dan kebutuhan warga, PHMJ Sidorejo dan PHMD Kediri Utara mengadakan pertemuan pada 15 Februari 1995 dan memutuskan bahwa Jemaat Sidorejo perlu dipencar. Secara khusus PHMJ Sidorejo mengadakan rapat pada 12 Juli 1995 memutuskan bahwa yang didewasakan adalah Jemaat Sidorejo bagian Utara, dimana Dusun Purwoharjo berada. Dusun Purwoharjo dipilih karena dinilai mampu dan memiliki jumlah warga yang banyak dibanding dengan dua dusun lainnya.

Kemudian dilakukan pendekatan kepada warga guna memberikan penjelasan perlunya pemencaran ini selama empat bulan. Pro dan kontra tidak terhindarkan. Sebagian warga setuju dengan usaha pemencaran ini. Namun, sebagian mengaku keberatan dengan usaha pemencaran dengan alasan jemaat yang utuh ini jangan dipecah-pecah dan pemencaran bisa berujung pada persaingan antar dusun. Meskipun demikian, pemencaran sangatlah perlu dilakukan, maka dibentuklah panitia pemencaran. Kemudian proses uji coba Calon Jemaat terus belangsung dengan bantuan Vikar Dony Kristanto, S.Th.

Pada 2 Maret 1996, persemian Calon Jemaat Purwoharjo ditandai dengan mengadakan Ibadah Perdana yang dipimpin oleh Pdt. Sih Hardi, Sm.Th. selaku wakil ketua PHMA. Ibadah tersebut dihadiri warga Calon Jemaat Purwoharjo dan ketiga pepanthannya, yakni Pepanthan Sumber Bahagia, Pepanthan Dorok, dan Pepanthan Tanggung Mulyo. Acara tersebut dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang Bp. Mintoarjo dan mengusung lakon "Penyerahan tongkat estafet dari Nabi Musa kepada Yosua/Yusak". Kemudian pada 26 April 1996 dibentuk struktur kemajelisan dan badan- badan pembantu majelis calon jemaat Purwoharjo.

Proses pemencaran terus berlangsung dan semakin serius. Panitia pemencaran Calon Jemaat Purwoharjo melalui Jemaat Sidorejo mengusulkan proses pemencaran calon jemaat Purwoharjo pada sidang ke-8/1997 MD Kediri Utara di Jemaat Kediri (20-22 Februari 1997) dan usulan tersebut disetujui. Keputusan tersebut ditanggapi dengan serius. Panitia Pemencaran bersama pendampingan dari PHMJ Sidorejo, PHMD Kediri Utara dan PHMA mempersiapkan dengan teliti dan cermat dalam menyusun sebuah prosposal pendewasaan Calon Jemaat Purwoharjo. Prosposal tersebut diajukan pada Sidang ke-87/1997 Majelis Agung di Jemaat Blitar [30 Juni 8 Juli 1997] dan disetujui. Di tengah memantapkan langkah menuju kedewasaan ini, Calon Jemaat Purwoharjo mendapatkan bantuan dari Vikar Retnosari, S.Th.

Minggu, 26 Oktober 1997 adalah sebuah tanggal bersejarah bagi jemaat Purwoharjo. Pada tanggal tersebut, Calon Jemaat Purwoharjo didewasakan sebagai Jemaat ke-127 oleh Pdt. Prof. S. Wismoadi, Ph.D selaku Ketua PHMA saat itu dalam sebuah Ibadah Minggu. Dalam Ibadah tersebut dilantik pula Pdt. Sakip Prayitno sebagai pendeta baku di Jemaat Purwoharjo, lengkap dengan Penatua dan Diaken jemaat beserta bada-badan pembantu daur 1998-2000. Acara pendewasaan tersebut berlangsung dengan sangat meriah dengan adanya banyak persembahan pujian dari regu-regu paduan suara serta tak ketinggalan pagelaran wayang oleh Ki Dalang Mintoarjo dengan lakon "Pandawa Mulya".


2. Pembangunan Gedung Gereja

Selama setahun menjadi dewasa, Jemaat Purwoharjo belum memiliki sebuah Gedung Gereja, sehingga untuk Ibadah Minggu dan Ibadah lainnya menumpang di rumah Mbale Ibu Yosroatmojo. Kantor gereja menumpang digarasi mobil Bp. [Alm] Pantoro. Sedangkan kapandhitan menumpang di rumah Ibu Wiryoadi.

Meskipun demikian, Jemaat Purwoharjo ditunjuk untuk menjadi tuan rumah acara Rapat Kerja BPMA dan BPMD se-GKJW pada tanggal 6-8 Februari 1998. Jumlah peserta yang hadir 150 orang. Dalam rapat kerja tersebut dibahas pentingnya pemberdayaan ekonomi warga di lingkup GKJW.

Penantian akan rumah ibadah terjawab pada tanggal 26 Oktober 1998. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun jemaat Purwoharjo, dilakukan peletakan batu pertama oleh Pdt. Sakip Prayitno. Sebelumnya diawali dengan ibadah singkat dan diakhiri dengan pemotongan tumpeng dihadapan warga dan tukang bangun. Hadir pula Pdt. Sih Hardi, Sm.Th selaku Ketua PHMD Kediri Utara. Dalam prosesnya, dukungan mengalis dari berbagai pihak. Warga jemaat dengan sukarela memberikan dukungan baik dana maupun tenaganya, bergotong royong membantu pendirian gedung gereja. Para tukang pun rela hanya dibayar setangah dari upah normal, sisanya adalah persembahan. Pemerintahan desa pun memperlancar proses perijinan bangunan. Gedung gereja tersebut berdiri diatas tanah milik Bp. Edi Siswoyo yang kemudian ditukar dengan tanah sawah milik jemaat.

Gedung gereja belum usai, namun jemaat Purwoharjo kembali ditunjuk untuk menjadi tuan rumah acara besar, yakni Sidang ke-17/2001 MD Kediri Utara 1 pada 21-23 September 2001. Ibadah-Ibadah perayaan pun telah menggunakan gedung gereja ini meski belum sempurna.

Setelah kurang lebih lima tahun, gereja baru dapat bediri dan rampung pengerjaannya. Sehingga pada 22 Juni 2003 diresmikan oleh Ketua PHMA Pdt. Dr. Bambang Ruseno Utomo, MA. Peresemian tersebut ditanda dengan penandatanganan sebuah prasasti oleh Ketua PMHA, dan prasasti tersebut masih bisa kita temukan terpasang di tembok depan gereja. Persemian gedung gereja sangatlah meriah dengan dukungan dari segenap warga jemaat Purwoharjo dan persembahan paduan suara jemaat-jemaat lain sebuah cerminan sesanti "Patunggilan kang nyawiji".


3. Pendeta yang pernah Bertugas

Adapun pertumbuhan iman Kristen yang telah ada memerlukan pekerja-pekerja untuk menuai hasil dari tiap benih. Berikut nama-nama Pendeta yang pernah bertugas di Jemaat Purwoharjo:
1) Pdt. Sakip Prayitno [Baku, 1997-2006]
2) Pdt. Sunardi, S.Th [Konsulen, 2006-2007],
3) Pdt. Suprapto, Sm.Th [Baku, 2007-2012],
4) Pdt. Ngadianto [Konsulen, 2013], dan
5) Pdt. Sesongko Sukmo Wiweko, S.P. [Baku, 2013 - sekarang].


*) Selaras dengan buku "Sejarah Berdirinya Greja Kristen Jawi Wetan Jemaat Purwoharjo", yang disusun oleh Dra. Kuswinanti Andreas dan Helly Purwadani, S.Pd, dalam acara peresmian Gedung Gereja Jemaat Purwoharjo pada 22 Juni 2003 dengan penambahan seperlunya.

*) Sumber: http://pansidmagkjw113.blogspot.co.id/2016/05/sejarah-ringkas.html

dilihat : 3198 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution