Rabu, 18 Juli 2018 15:21:02 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 158
Total pengunjung : 406552
Hits hari ini : 1150
Total hits : 3706231
Pengunjung Online : 8
Situs Berita Kristen PLewi.Net -SEMINAR GPIBI TENTANG KELUARGA IDEAL






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 20 Juli 2005 00:00:00
SEMINAR GPIBI TENTANG KELUARGA IDEAL
Pernikahan itu sebetulnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan keintiman dan kasih selama durasi kehidupan kita. Kasih yang bertumbuh bahkan sama pentingnya bagi pernikahan sebagaimana kebutuhan akan makanan dan air bagi tubuh.



Begitu salah satu prinsip dari kasih yang disampaikan Ted Wood, pembicara asal California Amerika Serikat Pria dalam seminar mengenai prinsip-prinsip keluarga Kristen yang sepadan dengan Alkitab yang diadakan Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia (GPIBI) di Sekolah Tinggi Injili Indonesia (STII) Surabaya.



Selain itu, papar ayah dari Natan (7 tahun) dan Alyssa (4 tahun) ini, bahasa kasih yang pertama, ialah kata-kata penegasan. Kata-kata kita memegang kuasa atas kehidupan dan kematian (Amsal 18:21). Selain itu, kata-kata penegasan, merupakan alat komunikator yang kuat. Namun juga perlu diingat bahwa permintaan yang penuh hormat dapat menciptakan kesempatan-kesempatan berbuat kasih. Tetapi juga perlu diingat, kuncinya adalah kerendahan hati.



Kemudian tutur pria kelahiran 15 Mei 1970 ini, bahasa kasih kedua adalah waktu yang berkualitas. Maksudnya, waktu yang berkualitas itu bisa berupa perhatian yang sungguh-sungguh, melalui percakapan yang berkulitas. Dan untuk itui membutuhkan seni mendengar dan membuka diri.



Sedangkan bahasa kasih ketiga ialah pemberian hadiah. Hadiah biasanya merupakan simbol visual kasih sayang. Allah telah memberi tiga hadiah penting sebai wujud kasih-Nya kepad kita yaitu firman-Nya, anak-Nya dan Roh Kudus-Nya. Dan kehadiran kita dapat menjadi hadiah yang berarti.



Sebagai contoh bagaimana menunjukkan bahasa kasih, Ted Wood menjelaskan, buat daftar hadiah yang selama ini diterima dengan bersemangat, entah yang diberikan anda sendiri atau orang lain. Juga kalau mau memberi hadiah jangan tunggu acara khusus, buat kegiatan ini menjadi regular – sekali seminggu atau dua kali sebulan.



Bahasa kasih keempat, yaitu pelayanan. Firman Allah mengajar kita untuk menunjukkan kasih lewat pelayanan. Membasuh kasih para murid. (Yohanes 13:5, 12:15). Melayani karena kemerdekaan di dalam Kristus (Galatia 5:13-14), serta alasan, Allah memberi kita karunia untuk melayani. (I Petrus 4:7-11). Pelayanan kepada pasangan kita bisa berupa apa saja yang dilakukan atas dasar kasih untuk memenuhi harapan pasangan Anda.



Sedangkan bahasa kasih yang terakhir yaitu sentuhan fisik. Menurut pria bertubuh jangkung ini, sentuhan tidak selalu sama. Pelajari apa yang lebih disukai pasangan Anda. Sentuhan kasih ini ada dua, kasih eksplisit berupa perhatian dan pengertian penuh untuk pasangan anda. Sedang implisit, kata suami Danielle, membutuhkan suatu momen tertentu, tetapi sangat mudah terlewatkan. Jadi, sebuah bahasa kasih, merupakan sebuah tindakan yang mengkomunikasikan kasih dengan cara tertentu yang memenuhi kebutuhan emosional.



Sedangkan pada hari terakhir, pria yang juga masih menjabat sebagai manager di sebuah perusahaan komputer “Silicon Graphics” ini memfokuskan pada tugas orang tua terhadap anak. Apa saja tugas orang tua? Mendidik anak, mengajar anak, mengatur anak, mendewasakan serta memelihara anak juga mengasihi.



Acara yang dihadiri lebih dari 50 pasangan suami istri yang rata-ata berusia muda ini, Ted Wood mendasarkan pada kitab Yosua, yang berbunyi: “…Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!” (Yosua 24:15).



Tutur Catur Nanang, salah seorang peserta yang juga tercatat sebagai salah seorang penatua GPIBI, kepada wartawan pustakalewi.com, mengutarakan, “Seminar ini sangat bagus. Bisa membuka wawasan kehidupan rumah tangga. Ada nilai lebih dan sangat membantu kalau ada perselisihan atau beda pendapat. Harapan saya, hal semacam ini perlu ditindaklanjuti.” (ner)

dilihat : 380 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution