Minggu, 16 Desember 2018 14:02:02 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 155
Total pengunjung : 450985
Hits hari ini : 1188
Total hits : 4154373
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Puluhan Advokat Demo Depan PN Surabaya, Minta 2 Rekannya Dibebaskan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 17 Mei 2016 09:06:46
Puluhan Advokat Demo Depan PN Surabaya, Minta 2 Rekannya Dibebaskan

Surabaya – Puluhan Advokat dari berbagai induk organisasi advokat, melakukan aksi unjuk rasa di di pintu masuk gedung Pengadilan Negeri [PN] Surabaya.

Demo yang dilakukan para profesional hukum tersebut menuntut dua rekannya yang ditahan okeh Kejaksaan Tinggi [Kejati] Jawa Timur dibebaskan, Senin 16 Mei 2016.

Dalam aksinya, para Advokat tersebut, memakai baju toga dan membawa puluhan spanduk di PN Surabaya jalan Arjuno, Surabaya.

“Kami minta rekan kami yang ditahan dibebaskan. Kami menolak upaya kriminalisasi yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum [JPU] atas penyidikan Polda Jatim terkait dugaan perbuatan tindak pidana yang dipaksakan tersebut,” kata Hendry Rusdianto dari Ikatan Penasehat Hukum Indonesia [IPHI].

Mereka yang ditahan PN Surabaya tersebut adalah Soetardjo SH dan Soedarmono SH masing-masing dari Perhimpunan Advokat Indonesia [PERADI].

Dia menilai penahanan terhadap dua rekannya itu tak memiliki dasar. Pasalnya, mereka ditahan saat sedang menjalnkan profesinya sebagaii Advokat untuk mewakili kliennya.

“Mereka tidak punya dasar untuk menahan rekan kami Soetardjo dan Soedarmono yang dilindungi UU No18/2003 tentang Advokat dan Putusan Mahkamah Konstitusi No 26/PUU-XI/2013 bahwa Advokat tidak dapat dituntut secara pidana atau perdata selama menjalankan tugas dan profesinya baik didalam dan diluar persidangan,” ujar Hendry yang juga aktif di Forum Advokat Indonesia [FAI].

Senada juga dilontarkan advokat M Sholeh, mantan aktifis 98. Dia mengaku juga pernah menjadi korban kriminalsiasi penegak hukum di Denpasar Bali.

“Marilah peristiwa ini kita jadikan momentum, agar para advokat lebih bersatu lagi memerangi kriminalisasi terhadap advokat, jangan sampai profesi ini dicederai oleh kekuasan dan kewenangan, makakalau itu terjadi maka hancurlah profesi advokat, yang begitu mudah untuk mempidanakan advokat, yang sudah jelas jelas dalam menjalankan profesinya telah
dilindungi undang-undang,” ucapn nya pada ratusan rekan sejawatnya.

Sebelumnya, persidangan kasus pemalsuan surat yang menjerat Sutarjo dan Sudarmono, dua advokat asal Sidoarjo dipastikan bakal lanjut ke tingkat pembuktian. Setelah Majelis hakim yang diketuai Jihad Arkhaudin menolak eksepsi kedua terdakwa yang diajukan pada persidangan, Selasa 26 April 2016

Menurut Hakim Jihad, PN Surabaya memiliki kewenangan menyidangkan perkara ini karena sejumlah saksi atas perkara ini tinggal di Surabaya.

Terkait masalah profesi adokat yang tidak bisa dituntut pidana maupun perdata juga dikandaskan oleh hakim Jihad karena perbuatan kedua terdakwa haruslah dibuktikan dalam persidangan.

Sebelumnya, Jaksa Rahmat Haru Basuki dan Sumanto mendakwa kedua terdakwa melanggar pasal 263 ayat 1, pasal 311 ayat 1, pasal 317 ayat 1 KUHP juncto pasal 55 ayat 1 KUHP.

Kedua Advokat ini jadi pesakitan lantaran dilaporkan oleh Notaris Mashudi yang merasa tak terima karena Sutarjo dan Sudarmono telah melaporkannya ke Majelis Pengawas Daerah Notaris Gresik atas pelanggaran kode etik notaris terkait jual beli tanah. Han/Son/dln

dilihat : 426 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution