Rabu, 20 November 2019 11:38:02 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 2
Total pengunjung : 520223
Hits hari ini : 1111
Total hits : 5095191
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Advokat Hairanda Dipecat dari PERADI Setelah Tipu Klien






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 11 Mei 2016 21:18:08
Advokat Hairanda Dipecat dari PERADI Setelah Tipu Klien

Surabaya Pengacara senior Hairanda Suryadinata diberhentikan secara tetap sebagai advokat melalui keputusan perkara No 11/DKP/Peradi/IV/2012 atas perkara No 44GPERADI;DK-JATIM/2013 oleh majelis kehormatan daerah Perhimpunan Advokat Indonesia [PERADI] Jakarta, sejak Selasa 03 Mei 2016 silam.

Keputusan PERADI tersebut keluar lantaran Hairanda Suryadinata dinilai tidak menjalankan tugasnya sebagai advokat secara baik atau melanggar kode etik sebagai advokat saat menangani kasus keluarga Mulyanto Wijaya terkait perkara penganiayaan di Polrestabes Surabaya.

Keputusan pemberhentian atas advokat yang berkantor di Jalan Sono Indah, Surabaya ini diambil dalam sidang majelis kehormatan Peradi di kantor Peradi, Gedung Ariobimo Center, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Sidang pembacaan putusan tindakan pelanggaran kode etik UU No 18/2003 tentang kode etik advokat tersebut dipimpin ketua majelis hakim Dewan Kehormatan Peradi Pusat Dr. H. Ahmad Muliado SH. MH dengan hakim anggota Halomoan Panjaitan SH. LLM. HM Tamsil Sjoekoer SH. MH, Prof Dr Bintan Saragih SH. Dan Dr Martin Roestamy SH. MH

Advokat Hairanda Suryadinata sebagai teradu 1 terbukti melanggar ;
1. Pasal 6 huruf A UU No 18/2003 tentang Advokat.
2. Melanggar sumpah dan jani advokat dan kode etik profesi advokat sesuai pasal 6 huruf F dan larangan rangkap jabatan yang bertentangan dengan pasal 3 ayat 1 huruf 9 UU No 18/2003 tentang advokat juncto pasal 3 huruf G UU 2/2014 tentang perubahan atas UU No 30/2004 tentang Jabatan Notaris.

Hairanda Suryadinata dalam putusan tersebut juga diperintahkan agar menyerahkan kembali Kartu Tanda Pengenal Advokat yang diterbitkan oleh Sekertaris Dewan Kehormatan PERADI Jawa Timur.

Atas putusan ini, Hairanda diberi kesempatan untuk banding dalam waktu 21 hari.

Seperti diberitakan sebelumnya, Advokat Harianda Suryadinata terjerat kasus penipuan bermula dari adanya permasalahan hukum yang dialami Mulyanto bersama Juliati Wijayanti [istri], Alvianto Wijaya [anak] serta Thio Sin Tjong [temannya]. Mereka dilaporkan oleh Juniwanti Sugihman atas tuduhan penganiayaan, pengeroyokan, serta pengerusakan.

Saat itu, Hairanda ditunjuk sebagai pengacara kasus mereka. Nah, ditengah proses hukum itulah, Hairanda mengaku bisa menghentikan kasus tersebut dan meminta uang ratusan juta untuk mengkondisikan kepolisian.

Namun setelah uang diberikan sebesar Rp 165 juta, mereka justru ditetapkan sebagai tersangka oleh Polrestabes Surabaya. Advokat Hairanda pun lari dari tanggung jawabnya, hingga akhirnya dilaporkan ke polisi telah melakukan penipuan.

Rabu 2 September 2015, Majelis Hakim Pengadilan Negeri [PN] Surabaya yang diketuai Manungku Prastyo, menyatakan pengacara Hairanda terbukti melakukan tindak pidana penipuan. Dan menjatuhi hukuman pidana selama 6 bulan penjara pada Hairanda.

Rabu 20 Januari 2016, Hakim Pengadilan Tinggi [PT] Surabaya yang diketuai Nandu SH justru menjatuhkan hukuman lebih berat menjadi 2 tahun penjara kepada Advokat Hairanda. Han/Son/dln

dilihat : 507 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution