Senin, 20 Agustus 2018 02:34:53 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 193
Total pengunjung : 414534
Hits hari ini : 1537
Total hits : 3800152
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Peluncuran Buku Merajut Kebhinnekaan, Memaknai Indonesia






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 15 Februari 2016 18:44:37
Peluncuran Buku Merajut Kebhinnekaan, Memaknai Indonesia

Keberagaman adalah salah satu kata kunci yang bisa menggambarkan Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen [JKLPK] di Indonesia. Keberagaman tidak hanya menggambarkan berbagai jenis pelayanan dan medan perjuangan sosial yang ditangani oleh para partisipannya, tapi juga mencerminkan situasi zaman dimana Lembaga Pelayanan Kristen [LPK] berkarya.

Sebagai salah satu upaya untuk menggali sekaligus sarana refleksi dari kerja-kerja JKLPK ini, disusunlah sebuah buku yang menampilkan secara sekilas pengalaman-pengalaman kerja LPK riil di lapangan. Buku yang dikerjakan secara “keroyokan” oleh 18 penulis yang merupakan representasi dari lembaganya masing-masing dan dengan bidang pelayanan yang tentu saja sangat beragam

Secara seremonial, buku yang disunting oleh Rainy Hutabarat [Yakoma-PGI] ini diluncurkan dengan sebuah forum yang tidak hanya mengundang para partisipan JKLPK, namun juga berbagai elemen masyarakat sipil lain, terutama kelompok-kelompok lintas agama.

Penyelenggaraan acara ini dilaksanakan pada Jumat siang [12/02] bertempat di Grha Oikoumene lantai 3, Gedung PGI, yang terletak di bilangan Salemba, Jakarta. Dengan moderator Irma Riana Simanjuntak [Yakoma-PGI], hadir sebagai pembedah buku pada forum ini adalah Ana Marsiana yang merupakan konsultan JKLPK, Ruby Khalifah dari The Asian Muslim Asian Network [AMAN], dan Martin Lukito Sinaga dari STT Jakarta.

Sebelum ketiga pembedah buku menyampaikan perspektifnya, terlebih dahulu Suryati Simanjuntak selaku ketua Kelompok Kerja [Pokja] JKLPK menyampaikan sambutan yang diantaranya berisi ucapan terimakasih kepada para kontributor dalam penulisan buku ini. Suryati berharap bahwa kumpulan tulisan pengalaman yang merupakan kerja-kerja pengorganisasian ini bisa menjadi pembelajaran, memperkuat spiritualitas, dan akhirnya bisa membuat kita memaknai kebhinekaan semakin baik.

Tampil sebagai pembedah utama, Ana Marsiana secara tajam langsung memberi otokritik dengan menyampaikan bahwa banyak diantara kita yang masih melihat keberagaman hanya sebagai sesuatu yang “given”, bukan sebagai sesuatu yang “gift”. Keberagaman itu menurutnya harus dirayakan dan dimaknai secara lebih luas. Dalam konteks jejaring JKLPK maka salah satu tugas yang terus dilakukan adalah memperluas tafsir terhadap kebhinnekaan itu sendiri.

Ketika berbicara dalam konteks keberadaan LPK-LPK dalam arus gerakan sosial, Ana Marsiana membuat sebuah pertanyaan reflektif: Apakah LPK saat ini sudah berada di aras gerakan atau masih dalam konteks arak-arakan? Terminologi “arak-arakan” menurutnya bukan ungkapan yang pas dalam menggambarkan gerakan sosial, ia indah dilihat namun tidak menimbulkan perubahan.

Disinilah menurutnya peran vital JKLPK dengan tetap memperhatikan keragaman karakter serta bidang pelayanan partisipannya yang tersebar di seluruh Indonesia. Peran-peran itu diantaranya adalah memfasilitasi berbagai karakter tersebut ke arah gerakan, menyambungkan dan menyelaraskan LPK-LPK dalam konteks perubahan yang diharapkan, dan membantu memberi pemahaman kepada gereja bahwa LPK merupakan perpanjangan tangan gereja, terutama dalam misi-misi pelayanan sosial.

Sebagai penutup, Ana Marsiana menyampaikan beberapa tantangan bagi LPK sekarang. Pertama adalah mengurangi aspek perannya sebagai pengada layanan dan menggeser peran masyarakat sebagai penggerak perubahan sosial. Tantangan kedua terkait posisi LPK-LPK dalam pelayanannya yang seringkali berada dalam posisi terjepit: di satu sisi dalam masyarakat masih melekat stigma kristenisasi, sedangkan di sisi lain justru gereja menilai LPK sudah berbeda visi dan misi pelayanannya. Tantangan ketiga terkait dengan perkembangan akhir-akhir ini dimana pemerintah sudah mempunyai banyak kebijakan populis, namun belum mampu merealisasikannya secara maksimal. LPK-LPK harus mempunyai kemampuan untuk mengawal kebijakan sekaligus mengakses anggaran terutama di bidang-bidang pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu Ruby Khalifah mencoba membedah buku ini dengan melihat dari sudut pandang seorang feminis muslim. Dengan jujur Ruby menyampaikan bahwa akhir-akhir ini selalu muncul refleksi tentang metode pergerakan yang diambil selama ini apakah sudah benar. Hal ini mengacu kepada dalam masyarakat kita terbiasa dengan standar ganda dan mengabaikan syarat paling penting dari sebuah gerakan: ketulusan.

Contoh paling nyata adalah keengganan masyarakat kita menerima nilai-nilai kemanusiaan dan pluralisme sebagai satu paket yang utuh, tidak dipilih-pilih maupun dipisah-pisah berdasarkan preferensi tertentu. Relasi antara elit dengan basis seringkali mencerminkan kegalauan ini dimana di tingkat akar rumput, berbagai permasalahan tentang keragaman lebih ganas. Para pemuka dan kelompok elit agama seringkali gagal menurunkan nilai-nilai mereka dalam tataran aksi. Ditambah dengan metode pengajaran agama kita sejak kecil yang menurutnya terlalu menekankan superioritas satu agama di atas agama lain.

Terkait peran lembaga-lembaga masyarakat sipil, seperti JKLPK, menurutnya harus mampu mengintervensi masyarakat dengan cara-cara baru yang lebih responsif terhadap berbagai perubahan di masyarakat. Dan yang paling penting adalah mampu menemukan simpul-simpul nasional dari berbagai gerakan yang sudah ada.

Pembedah ketiga adalah Martin Lukito Sinaga dari STT Jakarta yang menyampaikan perspektif teologis terhadap isi dari buku ini. Dibanding dua pembedah pertama, Martin Sinaga lebih bernada optimis dalam melihat keberadaan LPK-LPK dalam lingkup kekristenan Indonesia. Menurutnya telah terjadi transformasi besar dalam kekristenan dengan meminjam istilah yang diberikan dalam pengantar buku ini: “laku kemaslahatan Kristiani baru”. Istilah ini menurutnya merujuk kepada aksi-aksi oikoumenis di lapangan yang telah dilakukan terutama oleh berbagai lembaga pelayanan.

Martin Lukito Sinaga yang sering menyampaikan kajian dengan perspektif pasca kolonial ini juga melihat memang ada gap yang memisahkan gerakan LSM dengan gereja. Untuk itu menurutnya perlu membangun ulang dimensi spiritualitas gerakan sosial, karena tanpa spiritualitas sebuah gerakan sosial akan kering dan cepat hilang.

Dalam perkembangan disiplin ilmu teologis kontemporer juga sudah dikenal konsep diakonia normatif yang bisa dijadikan rujukan oleh LPK-LPK untuk mengembangkan dan memperkuat basis teologis pelayanannya. Inti dari diakonis normatif yang lekat dengan konteks teologi kontekstual ini adalah membangun sebuah normatifitas. Dalam konteks kekristenan pedesaan misalnya normatifitas itu dimaknai dengan keberadaan aspek agraris, kepemilikan sumber daya alam, dan tingkat kolektivitas khas masyarakat pedesaan.

Secara umum, forum paluncuran dan bedah buku “Merajut Kebhinnekaan, Memaknai Indonesia” ini cukup berhasil dalam menyampaikan pesan bahwa LPK-LPK sudah berkarya secara oikoumenis di masyarakat. Namun tentunya karya itu tidak akan berhenti mengingat tantangan zaman selalu hadir disertai berbagai perubahan yang terjadi mulai dari struktur internasional sampai perubahan dalam konteks akar rumput. Terus mengembangkan diri, beradaptasi dengan berbagai perubahan, serta memperkuat basis teologis pelayanan adalah hal-hal penting bisa dirangkum dari pemaparan ketiga pembedah dan tentunya ini menjadi tantangan bersama yang harus kita jawab.

dilihat : 1085 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution