Sabtu, 15 Desember 2018 13:15:09 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 139
Total pengunjung : 450742
Hits hari ini : 754
Total hits : 4152192
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Melacak Jejak Yesus di dalam Kepemimpinan Jokowi dan Ahok






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 06 November 2014 07:24:17
Melacak Jejak Yesus di dalam Kepemimpinan Jokowi dan Ahok

Jombang,pl.net - GKI Jombang menggelar diskusi dengan topik “Melacak Jejak Yesus di dalam Kepemimpinan Jokowi dan Ahok.” Diskusi ini dihadiri oleh jemaat GKI Jombang baik tua dan muda serta mengundang beberapa gereja seperti GKJW Jombang, GPDI dan beberapa organisasi muda seperti Staramuda, muhamadiyah dan pemuda sidiqiyah. Narasumbernya adalah Andreas Kristianto (GKI Jombang) yaitu calon pendeta GKI dan Gus Aan Anshori sebagai koordinator Jaringan Gusdurian di Jawa Timur.

Diskusi tersebut di mulai dengan memperkenalkan siapa Yesus itu? Aan Anshori mengungkapkan bahwa berbicara tentang Yesus, mau tidak mau juga berbicara tentang Al-quran. Karena Yesus (Isa) adalah juga bagian dari ke-isalaman. Yesus bukanlah yang liyan (orang lain), tetapi keluarga sendiri, bagian dari kami (Islam) juga. Andreas Kristianto menambahkan bahwa diskusi tentang Yesus adalah sesuatu yang sentral di dalam Kekristenan. Dia sudah menjadi nafas dan bagian dari kami. Kekristenan tanpa Yesus, tidak akan ada spirit dan daya juang. Itu tutur dari calon pendeta GKI Jombang itu. Seperti halnya Gus Dur mengungkapkan bahwa justru karena kita berbeda, maka kita akan jelas dimana letak persatuan kita.

Aan Anshori mengungkapkan bahwa ada empat pijakan awal yang harus menjadi dasar di dalam diskusi pada malam ini. Pijakan awal itu adalah pertama, Yesus (Isa) merupakan sosok suci yang kelahirannya mendapat apresiasi khusus Alquran (Maryam 33, Baqarah 253), kedua, mempercayai kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah merupakan salah satu pilar (rukun) keimanan (Baqarah 87, al imran 3-4), ketiga, kebenaran tidak tunggal, menacari titik temu, berdakwah yang baik (baqarah 62, al-imran 64), keempat, kebencian terhadap kelompok tidak bisa menjadi alasan berbuat tidak adil pada mereka (maidah 8). Dasar inilah yang membuat diskusi menjadi sejuk dan konstruktif. Kata Aan Anshori, 4 pijakan inilah yang memberanikan saya untuk berbicara tentang Yesus di mana saja dan kapan saja.

Yesus adalah anak dari tukang kayu Yusuf dan pasanganya Maria. Mereka adalah keluarga yang tergolong Miskin dan sederhana. Hal itu terlihat di dalam injil Lukas 2 : 24 mengatakan, Yusuf dan Maria memberikan persembahan sepasang burung terukur atau dua ekor anak burung merpati. Dari ayat ini, kita bisa mengetahui bahwa Yesus adalah pribadi yang sederhana. Teladan inilah yang juga terlihat di dalam sosok pemimpin kita Jokowi. Dia berasal dari keluarga penjual kayu dan bambu di Bantaran Kali Anyar Solo. Dia sudah terbiasa hidup susah, susah membeli makan dan susah membayar biaya sekolah. Tetapi kondisi seperti ini, tidak mengurungkan niat dan komitmenya untuk terjun dan berkiprah di dunia politik.

Yesus adalah pribadi yang dekat dengan siapapun orang. Dia berjumpa dengan orang kusta, lumpuh, buta, Zakheus (tukang penarik pajak), bahkan perempuan Samaria yang mendapat stigma negatif di kancah pergaulan orang Yahudi. Secara teologis, Yesus adalah Sang Logos yang berimanensi menjadi manusia (kehadiran Allah yang membumi) (Injil Yohanes 1 : 1). Tidak heran, Yesus adalah pribadi yang dekat, menyapa dan memanusiakan manusia tanpa terkecuali. Ini yang menjadi keunikan di dalam Kekristenan, bahwa Allah hadir dan berjumpa dengan manusia. Teladan ini, sekarang melekat di dalam gaya kepemimpinan Jokowi. Dengan model blusukan, bagaimana dia melihat, mendengar dan menangani persoalan masyarakat. Pemimpin yang dekat dengan rakyat. Jokowi sempat mengatakan, yang penting kita turun dan berbicara langsung dengan orang yang bersangkutan. Ini terlihat bagaimana Jokowi berusaha memindahkan PKL tanah abang.

Yesus juga sosok yang blusukan. Ia sosok pemimpin, yang bukan hanya duduk di belakang meja, membuat program kerja dan strategi untuk mewujudkan misiNya, tetapi ‘turun’ melayani. Ia blusukan, ke desa, ke kota, ke tempat “yang terhormat”, ke tempat “yang rendah”, ke darat, ke danau, ke tempat ramai, ke tempat sepi dll. Mat 4:23, Mat 9:35 dan Luk 8:1 mencatat perjalanan Yesus untuk berkeliling ke seluruh wilayah Galilea, ke kota-kota dan ke desa-desa). Ia melihat langsung, Ia mendengar, ia memahami pergumulan orang-orang yang dijumpainya.

Ada seorang pendeta GKI yang bertugas khusus di Universitas Kristen Duta Wacana yaitu Pdt. Robert Setio. Dia mengatakan bahwa misi GKI adalah misi Ahok. Apa misi GKI itu? GKI terpanggil untuk mengusahakan kesejahteraan yaitu syalom yang berisikan keadilan, perdamaian dan keutuhan seluruh ciptaan (Tata gereja GKI alinea 10). Ahok adalah pribadi yang gigih dalam memperjuangkan keadilan. Dia berani menentang praktik ketidakadilan. Dia melawan koruptor-koruptor yang selama ini menerima suap sana-sini. Dia sempat marah-marah dan mengatakan, saya benci perilakunya yang korup, bukan orangnya. Itu artinya, uang yang kamu raup itu adalah uangnya orang banyak, uangnya rakyat, yang seharusnya mereka bisa makan dan minum, tetapi diambil oleh segelintir orang. Sama dengan Yesus yang marah-marah ketika Bait Allah dijadikan pedagang-pedagang berjualan. Bait Allah dijadikan pasar dan bukan altar (Injil Lukas 19 : 45-48). Firmannya mengatakan, rumah-Ku adalah rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sebagai sarang penyamun.

Ahok mengatakan bahwa dia akan rela mati demi mempertahankan dan memperjuangkan konstitusi. Itu artinya, dia rela mati demi Indonesia. Dia adalah harapan baru di tengah ketidaktegasan dan ketidakcakapan pemimpin dalam berbuat dan bertindak. Ahok muncul sebagai penyegar dahaga pemimpin yang tegas demi keindonesiaan. Ketika segelintir orang masih berteriak-teriak mempersoalkan SARA, Ahok hadir dengan segala bentuk keindonesiaannya. Dia mengungkapkan, kalau SARA maka saya lawan sampai mati.” Dia menunjukkan bahwa pantang terhadap pembedaan dan diskriminasi serta ‘penghakiman’ karena SARA. Ternyata keberanian untuk berani mati demi Indonesia, terinspirasi dari surat Filipi 2 : 21 yang mengatakan, karena bagiku hidup adalah kristus dan mati ada keuntungan. Inilah yang membuat Ahok memiliki passion, daya juang, roh yang menyala-nyala untuk memperjuangkan kebenaran di negeri ini. Sejatinya, gereja seharusnya ada di tengah dunia, seperti Yesus yang hadir di tengah manusia. Salam dari Jombang.

Andreas Kristianto
Calon Pendeta GKI Jombang dan Aktifis Gusdurian Jombang

dilihat : 876 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution