Rabu, 19 Desember 2018 04:59:36 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 122
Total pengunjung : 451891
Hits hari ini : 914
Total hits : 4161421
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Sejarah Gang Peneleh Bagi Surabaya






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 11 Oktober 2014 02:02:57
Sejarah Gang Peneleh Bagi Surabaya

Surabaya,pl.ne ......Rek, ayo rek mlaku, mlaku nang tunjungan ...... Rek, ayo rek rame, rame bebarangan..... Sepenggal syair lagu yang dipopulerkan Mus Mulyadi ini menggambarkan bagaimana asyiknya jalan-jalan atau berkeliling di Kota Surabaya. Ya, keliling Kota Pahlawan, sebutan untuk Surabaya akan banyak ditemui bangunan bergaya arsitektur dutch-indies yang tersebar ke seluruh Kota Surabaya. Bangunan gaya kolonial ini tidak saja ditemukan di daerah protokol melainkan hingga masuk ke dalam gang-gang sempit. Salah satu lokasi gang sempit yang masih menyimpan cerita menarik adalah Gang Peneleh. Nama Jalan Peneleh punya kisah tersendiri bagi sejarah bangsa Indonesia. Karena di gang tersebut pernah ada dua tokoh besar bangsa Indonesia yang banyak memberikan perubahan signifikan, salah satunya adalah gagasan untuk melahirkan negara Indonesia. Sebuah gagasan besar yang lahir di sebuah rumah kecil bergaya arsitek Cina, persis beberapa meter dari muka Jalan Peneleh Gang VII, Surabaya. Rumah ini milik cendikiawan muslim pada masa itu yaitu HOS Tjokroaminoto. Di rumah inilah Soekarno muda pernah kos untuk melanjutkan sekolah menengahnya di Surabaya. Sukarno tinggal di rumah ini atas rujukkan ayahnya di Mojokerto. Siapa sangka jika akhirnya di rumah ini lah Sukarno muda banyak belajar tentang konsep sebuah negara. Nama Peneleh sendiri diambil dari nama seorang putra Wisnu Wardhana, yaitu Pangeran Pinilih. Wisnu Wardhana adalah pemimpin daerah tersebut yang dulunya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Singosari. Jalan Peneleh memang bukan sekedar gang kecil, keberadaan gang ini memang sudah menjadi daerah sibuk sejak lama. Keramaian Jalan Peneleh ini tidak lepas dari aktivitas sungai Kalimas, yang lokasinya berada di muka Gang Peneleh. Pada era kolonial Belanda, sungai Kalimas aktif digunakan warga Surabaya sebagai jalur transportasi bagi para pedagang buah-buahan. Lokasi Jalan Peneleh tidak sukar ditemukan, karena lokasinya cukup berada di tengah kota. Siapa yang sangka jika daerah padat penghuni Peneleh ini merupakan wilayah yang sudah hidup sejak era kolonial. Tidak jauh dari Gang Peneleh VII tadi, anda bisa berkunjung ke sebuah bangunan tua yang dulunya digunakan sebagai pusat pembangkit listrik milik Belanda, namanya ANIEM (Algemeene Nederlandsch-Indische Eletriciteits Maatschappij) yang kemudian dikelola oleh PLN.(trv/yoc)

dilihat : 691 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution