Rabu, 24 April 2019 13:26:29 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 233
Total pengunjung : 495299
Hits hari ini : 1810
Total hits : 4552863
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -PROFAUNA Tolak Pabrik Nikel di Taman Nasional Baluran






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 06 September 2014 15:51:24
PROFAUNA Tolak Pabrik Nikel di Taman Nasional Baluran

Situbondo,PL.net - Kelestarian Taman Nasional Baluran yang berada di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur terancam dengan adanya perusahaan pengolahan nikel (smelter) yang berbatasan dengan kawasan taman nasional.

Kehadiran pabrik pengolahan nikel itu dikuatirkan akan memberikan dampak buruk kepada kelestarian ekosistem dan satwa liar di Taman Nasional Baluran, baik dampak secara langsung maupun tidak langsung. "Apalagi Baluran menjadi habitat satwa liar yang punya mobilitas tinggi seperti banteng, kerbau liar, rusa, dan ajag," ujar Swasti Prawidya Mukti Campaign Officer PROFAUNA, Rabu (03/09/2014).

Pantauan organisasi Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) pada akhir Agustus 2014, perusahaan pengolahan nikel itu sudah melakukan pembukaan lahan (land clearing) di lahan yang berbatasan dengan Taman Nasional Baluran. Pembukaan lahan itu hanya berjarak sekitar 500 meter dari pos masuk menuju taman nasional. “Pembukaan lahan seperti itu mengancam keselamatan satwa liar, karena satwa bisa saja berpindah tempat dan melintasi jalan yang dibuat oleh perusahaan nikel itu," kata Swasti.

“PROFAUNA menolak adanya pabrik pengolahan nikel di dekat kawasan Taman Nasional Baluran, karena ini mengancam kelestarian satwa liar dan ekosistem yang ada di Baluran. Perusahaan harus membeberkan amdal dari pembangunan itu secara transparan," tegas Swasti.

Emi Endah Suarni Kepala Taman Nasional Baluran membenarkan tentang rencana pendirian pabrik pengolahan nikel itu, tapi pihak Taman Nasional belum tahu tentang amdal-nya. Pihak Taman Nasional Baluran berharap agar pembukaan lahan oleh perusahaan nikel itu harus segera dilengkapi dengan pemagaran, sehingga satwa liar yang ada di Taman Nasional tidak menyeberang ke lahan yang sudah dibuka perusahaan itu.

Taman Nasional Baluran yang mempunyai luas 25.000 ha itu merupakan habitat berbagai jenis satwa liar. Tercatat terdapat 155 jenis burung dan 26 jenis mamalia diantaranya banteng (Bos javanicus javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), ajag (Cuon alpinus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak muntjak), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus melas), kancil (Tragulus javanicus pelandoc), dan kucing bakau (Prionailurus viverrinus).

Sebelumnya Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan - KJPL Indonesia juga sudah melakukan investigasi dan pemantauan langsung di lokasi hutan kapuk yang dirusak dan dibuat jalur akses masuk nikel dari tepi Pantai Bama menuju lokasi pabrik yang ada di Kawasan Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur.

"Dengan kondisi itu, KJPL Indonesia menolak tegas rencana pembangunan pabrik itu, karena jelas pembangunan pabrik itu akan merusak ekosistem di kawasan pesisir Situbondo. Pantai akan direklamasi untuk dermaga dan hutan kapuk dibabat habis yang kebetulan hutan itu berbatasan langsung dengan Taman Nasional Baluran, ini ironis," tegas Teguh Ardi Srianto Ketua KJPL Indonesia, Rabu (03/09/2014).

Menurut Teguh, kalau sampai pabrik pengolahan nikel itu berdiri, jelas ada ketidakberesan dari semua proses perijinan yang ada di Situbondo. "Kalau ada pabrik bersebelahan dengan Taman Nasional yang didalamnya banyak satwa dilindungi, jelas ini lucu dan sangat membahayakan untuk satwa di dalam Taman Nasional Baluran," papar Teguh.

Ditambahkan Teguh, KJPL Indonesia sudah menemui beberapa warga dan tokoh masyarakat di sekitar lokasi yang memastikan mereka juga menolak rencana pembangunan pabrik pengolahan nikel itu, bahkan diantara warga memastikan mereka tidak pernah diberitahu dan disosialisasikan tentang rencana pembangunan pabrik pengolahan nikel yang akan dikelola PT Situbondo Metalindo.

Potensi Bahaya Nikel Secara Ekologi dan Kesehatan

Pada tanggal 12 Januari 2014, Susilo Bambang Yudhoyono Presiden menetapkan berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 2014 mengenai kebijakan larangan ekspor bijih nikel mentah sebagai bentuk realisasi dari Undang-undang No.4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (minerba). Undang-undang ini beresensi agar semua bahan baku mineral seperti emas, nikel, bauksit, bijih besi, tembaga, dan batubara mengalami proses nilai tambah sebelum diekspor.

Peraturan ini juga mewajibkan pemilik usaha untuk membangun smelter, sebuah fasilitas pengolahan hasil tambang yang berfungsi meningkatkan kandungan logam seperti timah, nikel, tembaga, emas, dan perak hingga mencapai tingkat yang memenuhi standar.

Diharapkan pembangunan smelter ini akan meningkatkan investasi dalam negeri karena fasilitas smelter yang ada saat ini masih terbatas.

Ditilik dari segi lingkungan, ada beberapa efek negatif di balik keberadaan smelter. Pertama, smelter membutuhkan banyak sekali pasokan listrik dan batubara sebagai bahan bakar proses pengolahan.

Proses smelting pun pada akhirnya akan menghasilkan konsentrat mineral, serta produk limbah padat berupa batuan dan gas buang SO2. Saat menguap ke udara, maka senyawa SO2 dapat menyebabkan hujan asam yang jika turun ke tanah akan meningkatkan derajat keasaman tanah dan sumber air sehingga membahayakan kelangsungan hidup vegetasi dan satwa.

Satu diantara contoh nyata dari kerusakan lingkungan yang disebabkan smelter adalah peristiwa yang terjadi di Norilsk, Rusia. Dulunya kota ini merupakan kompleks smelting logam berat terbesar di dunia. Dalam setahun lebih dari 4 juta ton cadmium, tembaga, timah, nikel, arsenik, selenium dan zinc terlepas ke udara. Kadar tembaga dan nikel di udara melebihi ambang batas yang diperbolehkan, dan sebagai akibatnya dalam radius 48 km dari smelter, tidak ada satu pohon pun yang bertahan hidup.

Pada manusia dan satwa, semua jenis senyawa nikel juga dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, pneumonia, emphysema, hiperplasia, dan fibrosis. Selain itu, percobaan laboratorium membuktikan bahwa senyawa nikel dapat menembus dinding plasenta pada mamalia sehingga dapat mempengaruhi perkembangan embrio dengan risiko kematian dan malformasi.

Pada eksperimen berbeda yang dilakukan dengan cara menyuntikkan senyawa nikel pada organ-organ tubuh tertentu pada hewan percobaan, didapati munculnya sel-sel kanker akibat mutasi yang dialami oleh jaringan tubuh. (KJPL/MWP)

dilihat : 429 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution