Selasa, 17 Juli 2018 05:09:03 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 173
Total pengunjung : 406109
Hits hari ini : 2278
Total hits : 3701948
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Penginjil dan Nubuatan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 11 Agustus 2014 14:21:58
Penginjil dan Nubuatan
Percakapan teologis kembali hadir dalam ruang redaksi pustakalewi. Setelah cukup lama tidak memberi perhatian pada issue teologia entah kenapa tiba-tiba dua penggiat teologia hadir di tengah-tengah redaksi pustakalewi. Penggiat teologia yang pertama bernama Catherine. Seorang ibu separo baya yang berasal dari Maluku. Bu Chatrin, begitu pustakalewi diijinkan menyapanya.

Perkenalan dengan bu Cathrin sejatinya sudah berlangsung hampir setahun yang lalu. Bermula dari sms broadcast yang dimiliki pustaka lewi. Nomer handphone bu Cathrin ternyata ada dalam database Pustaka Lewi dan sering mendapat sms dari pustakalewi. Bu Cathrine beberapa kali sms untuk minta waktu bertemu. Naluri jurnalistik mengingatkan agar segera menemui bu Cathrin.

Singkat kata, setelah buat janjian bertemu akhirnya redaksi berkunjung ke kos bu Chatrin yang berada di belakang Kebun Binatang Surabaya. Berada perkampungan kecil –kumuh dan cukup terkenal buat warga lama Surabaya: Bumiarjo.

Untuk tiba di kostnya yang terletak di lantai dua redaksi harus masuk via gang kecil di samping terminal Joyoboyo. Sisi utara terminal ada bekas stasiun kereta listrik jaman Belanda. Di sana terletak pangkalan mini bis Surabaya-Mojokerto. Di sebelah pangkalan bis terdapat gang kecil menuju stasiun kereta jaman Belanda. Setelah menelusuri gang kecil dan kumuh dan berbelok beberapa gang kecil kami tiba di kos yang sangat sempit. Luasnya 1,5 x 2 meter. Untuk masuk ke lantai 2 juga harus menaiki tangga kecil. Terdapat dua kamar di lantai atas.

Tidak lama kemudian percakapan dimulai. Bu Cathrine mengaku sudah tiga tahun lebih mengurung diri di kosnya. Itu semua ditempuh untuk menulis sebuah buku mengenai nubuatan yang ada di kitab Daniel dan Wahyu. Lalu kami disodori satu bendel tulisan tangan. Tebalnya kira-kira seratus lima puluh halaman jika diketik.

Setelah menyimak buku sejenak, bu Christin lalu bercerita banyak soal isi bukunya. Sontak kami gelisah karena tidak mengerti alur cerita yang dimaksud. Datang dengan tanpa persiapan buat wawancarai teologis dus yang dibahas adalah tema berat seputar rahasia alkitab dan ramalan masa depan membuat wawancara jadi hambar.

Berawal dari cerita nubuatan Daniel dan dikaitkan dengan nubuatan yang ada di kitab Wahyu. Bu Chatrin sangat antusias bercerita seputar kitab yang termeterai, 10 tanduk, 7 gunung, tanduk kecil, anak manusia, yang lanjut usia dan lain sebagainya. Simbol yang coba dipecahkan banyak teolog sepanjang masa. Tambah mumet lagi ketika bu Cathrin menarik kisah yang ada di alkitab itu dengan situasi di daerah asalnya di Maluku. Seakan cerita alkitab soal nubutan kitab Daniel dan wahyu itu ada kaitannya dengan kisah leluhurnya di tanah Maluku.

Alur ceritanya maju mundur. Kadang membahas soal konteks kitab Daniel dan wahyu lalu mencocokkan dengan situasi di kampung. Lalu bercerita tentang silsilah keluarga termasuk rahasia keluarga dan dikaitkan dengan kisah yang ada di kitab Daniel dan wahyu. Seakan-akan leluhur bu Chatrin adalah bagian dari bangsa Israel dan kunci untuk memecahkan rahasia nubuatan yang ada di kitab Daniel dan wahyu terletak pada rahasia keluarga yang ada di Maluku.

Bu Cathrin juga mengatakan telah bertemu dengan rohaniawan Yahudi yang tengah berkeliling ke tanah Maluku dengan misi mencari kunci rahasia kitab yang termeterai seperti yang dikisahkan di kitab Daniel dan wahyu. Bu Cathrin mengaku kalau penglihatan yang ada padanya adalah kunci untuk membuka kitab yang termeterai. Untuk meyakinkan bu Cathrin menunjukkan beberapa foto pertemuan dengan rohaniawan Yahudi yang tengah berkunjung ke Maluku. Setelah mendengarkan uraian yang lebih dari dua jam wawancarai berakhir.

Setibanya di kantor, redaksi pustakalewi memutuskan untuk tidak meneruskan komitmen mengangkat kesaksian bu Cathrin sebagai sebuah tulisan.Topiknya membingungkan!

Bertemu Pak Hakekat
Sebulan kemudian email redaksi dapat email tembusan yg berasal dari milis yahoogrups. Pengelolanya seorang penginjil individual yang menggunakan nama samaran: Hakekat. Sedang milisnya bernama hakekathidupku. Redaksi tidak merasa mendaftarkan diri sebagai member milis tapi tiba-tiba menjadi member grup. Awalnya postingannya mengenai banyak topik mulai dari perdebatan agama, teologi dan kadang-kadang menjurus ke issue politik. Sesekali redaksi mengomentari soal issue politik yang dilontarkan pak hakekat. Dari sana perkenalan terbangun. Pak hakekat kemudian bercerita kalau asli arek suroboyo dan jika ada rencana ke Surabaya akan mampir ke redaksi.

Seminggu sebelum lebaran kemaren pak Hakekat benar-benar mudik ke Surabaya. Setelah janjian ketemuan di bilangan Embong Malang Surabaya, Santo-direktur Pustaka Lewi menjemput di tempat yang telah disepakati yakni di perempatan pasar Praban-Kedungdoro. Pak Hakekat tidak menggunakan handphone sehingga satu-satunya alat komunikasi adalah email. Pak Hakekat dalam percakapan sebelumnya mengaku kalau hidupnya dari satu warnet ke warnet lainnya. Memilih menginjili via internet.

Setelah memberitahu ciri-ciri fisik yakni kepala rada gundul- rekan Santo akhirnya berhasil menemukan pak Hakekat yang tengah ngopi di warkop yang ada di sisi kanan perempatan. Lalu dengan bersepada motor Santo mengajak pak hakekat bertemu redaksi di café milik salahsatu hotel budget yang ada di bilangan pengadilan negri Surabaya. Kebetulan ada janjian bertemu dengan narasumber lain dan lokasinya dekat dengan tempat penjemputan pak hakekat.

Pertama kali bertemu redaksi kaget meliat perawakan pak Hakekat. Badannya kurus, berkaos abu-abu lusuh, celana panjang coklat, bersandal jepit dan tampak raut wajah lelah. Usia limapuluhtahunan. Tas butut hitam digantung di bahu kanan. Kelopak matanya yang sipit membuat siapa saja yang berpapasan pasti menyimpulkan kalau pak Hakekat ini etnis tionghoa walau kulitnya coklat gelap.

Pak hakekat bersaksi kalau penginjilannya sungguh door to door. Berjalan kaki mengelilingi pulau Jawa dan sumatera. Untuk menginjili sumatera dihabiskan waktu berjalan kaki selama satu tahun empat bulan. Berangkat menyisir pantai barat dan pulang menyisir rute pantai timur. Sehari berjalan kaki rata-rata 40 km. Demikian juga penginjilan keliling pulau jawa. Sepanjang perjalanan pak hakekat berusaha mampir di tempat ibadah yang mau berdiskusi tentang agama. Tidak terkecuali pondok pesantren. Didatangi untuk diajak diskusi soal keagamaan.

Selama perjalanan pak Hakekat sepenuhnya bersandar pada pertolongan Tuhan. Dalam blog dan milisnya pak hakekat sering bercerita tentang misi penginjilannya yang tidak mengandalkan donasi. Acapkali pak hakekat tidak makan dalam perjalanan. Tidurpun seenaknya dimana badan mau ditidurkan. Kadang di tempat rumah ibadah yang terbuka, kadang di warnet, kadang di pos ronda dan sering juga di pom bensin atau di pangkalan truk.

Sebagai penginjil advent non formal (tidak diutus gereja advent) pak hakekat malah sering melawan dogma advent. Melawan hawa dingin di perjalanan (tidak mau mengenakan jaket karena dirasa memberatkan) pak hakekat menghisap rokok. Pengakuannya kalau dirinya seorang perokok aktif jadi bahan kritik sesama penginil advent. Gereja advent yang berpantang merokok dan makan daging malah ditentangnya. Pak hakekat tidak merasa salah mengonsumsi daging. Pak hakekat mengaku memang tidak mengonsumsi alkohol karena tidak suka.

Sebelum tiba di Surabaya, pak Hakekat berjalan kaki dari Jakarta ke Semarang lalu dilanjutkan sampai Bojonegoro. Saat ditanya menghabiskan berapa lama sampai Bojonegoro dijawab hampir tiga minggu. Sesampai di Bojenogoro pak Hakekat mampir di warnet dan menemukan email dari jemaat yang dilayani yang mengabarkan tengah berada di Surabaya. Akhirnya pak hakekat mempersingkat perjalanannya dengan naik bis dari Bojonegoro ke Surabaya.

Setelah bercakap-cakap cukup panjang terungkap pak Hakekat adalah seorang penginjil yang juga menguasai kitab Daniel dan wahyu. Pucuk dicinta ulam tiba. Sehari sebelum pertemuan dengan pak hakekat, bu Cathrin kembali menghubungi redaksi menanyakan bagaimana kelanjutan penulisan kesaksiannya soal kitab Daniel dan wahyu. Redaksi bercerita kepada pak hakekat soal bu Cathrin dan pak Hakekat bersedia berdialog dengan bu Cathrin.

Redaksi berharap dengan perantara pak Hakekat akan dapat memahami apa yang dimaksud oleh bu Cathrin dengan pengliatannya terhadap nubuatan yang ada di kitab Daniel dan wahyu. Pertemuan akhirnya disepakati esok pagi di sekretariat GMKI Surabaya di bilangan Tegalsari Surabaya.

Pada pertemuan pertama bu Cathrin tampak senang karena punya mitra diskusi yang dapat mengerti selukbeluk kisah rahasia yang ada di kitab Daniel dan wahyu. Percakapan berlangsung gayeng dan tidak terasa telah memakan waktu seharian. Disepakati akan dilangsungkan pertemuan berikutnya ditempat yang disepakati bersama.

Deadlock
Pertemuan kedua berlangsung antara pak hakekat dan bu cathrin saja. Mereka bertemu di salah satu rumah singgah yang ada di deket terminal Joyoboyo. Tempat itu dipilih agar bu Cathrin tidak usah pergi jauh. Pak Hakekat merasa lebih pas yang bergerak mendekati. Besar harapan redaksi akan terungkap sebuah kisah percakapan teologis yang bernas.

Ternyata harapan itu bertepuksebelah tangan. Pak Hakekat akhirnya mengaku tidak menemukan titik temu disebabkan bu Cathrin berangkat dari pengliatan pribadi yang kemudian dimasukkan ke dalam kisah yang ada di alkitab.

Pun halnya bu Cathrin mengatakan ketidakcocokannya dengan pak hakekat karena menurutnya terlalu mengandalkan tafsir kitab Daniel dan wahyu yang telah beredar banyak di kalangan penginjil dan terutama di kalangan advent dan saksi yehova.

Pak hakekat menyangkal mengandalkan tafsir yang telah ada. Dirinya berangkat dari penafsiran apa yang tertulis di alkitab. Pak hakekat mengaku telah 14 kali membaca alkitab dari awal hingga akhir. Baginya tidak ada toleransi terhadap pengliatan yang tidak punya dasar pijakan dari alkitab. Sebagai seorang penginjil advent (non formal ) Pak Hakekat menganggap pengliatan bu Catrhin yang tidak ada referensi dalam alkitab adalah sebuah kekeliruan.

Apa pesan moral dari pertemuan dua penginjil yang telah sama-sama total melayani sepenuh hati ini ? Setelah merenung redaksi akhirnya tiba pada kesimpulan perdebatan teologia tidak akan pernah berhenti pada kesimpulan yang sama. Semua akan terus-menerus melakukan pencahariannya sendiri. Tidak ada yang paling benar. Semua adalah musafir…

Tabik,

@sonnysaragih

dilihat : 5104 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution