Kamis, 19 Juli 2018 18:53:58 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 191
Total pengunjung : 406879
Hits hari ini : 1071
Total hits : 3709279
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Para sejarawan Washington menggali fakta tentang Muslim pertama di Amerika






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 24 November 2012 08:49:38
Para sejarawan Washington menggali fakta tentang Muslim pertama di Amerika
Washington, DC – Bagi sebagian besar Muslim, apa yang terjadi pada jasad orang yang mati tidaklah sepenting apa yang terjadi pada ruhnya. Namun, para sejarawan dari berbagai latar belakang tengah berupaya menemukan jasad dan harta benda seorang Muslim yang dimakamkan di Washington, DC hampir 200 tahun yang silam, karena ini berkaitan dengan ruh sejarah berdirinya Amerika.

Orang tersebut, yaitu Yarrow Mamout, adalah satu dari puluhan ribu – bahkan mungkin jutaan – orang Muslim yang dibawa ke Amerika dalam masa perdagangan budak, merupakan satu dari segelintir yang diketahui informasinya oleh para sejarawan.

Dokumen-dokumen sejarah menunjukkan bahwa Yarrow boleh jadi dimakamkan di tanah yang ia beli setelah ia merdeka pada 1797. Tanah itu kini berada di permukiman Georgetown yang bersejarah di Washington, di mana rumah-rumah kini dijual seharga jutaan dollar. Pemiliknya, pengembang perumahan, Deyi Awadallah, tadinya berniat membangun dan menjual sebuah perumahan. Ia tidak tahu apa-apa tentang Yarrow ketika membeli tanah tersebut musim semi yang lalu, namun ia bersedia memberi para arkeolog kesempatan – selama beberapa pekan atau beberapa bulan – untuk melakukan penyelidikan sebelum ia melaksanakan rencananya.

“Saya mencoba menghormati situasinya. Dengan sepatutnya,” katanya dalam suatu wawancara bulan ini.

Menurut James H. Johnston, Yarrow dijual sebagai budak ketika masih remaja di Senegal pada 1752. Pengacara dan penulis lepas di Washington ini menghabiskan delapan tahun untuk menyelidiki kisah Yarrow sebagai bahan bukunya From Slave Ship to Harvard: Yarrow Mamout and the History of an African American Family (2012).

“Ia cukup terkenal pada masanya, namun (sejak saat itu), tak ada lagi orang yang mendalami siapa dia,” kata Johnston. Inspirasi penelitian Johnston bermula setelah ia melihat dua potret Yarrow, yang mencerminkan penggambaran kaum ningrat tentang seorang lelaki Afrika-Amerika pada zaman perbudakan. Potret yang lebih terkenal dari dua potret ini dilukis oleh seniman awal Amerika terkenal Charles William Peale, dan berada di Museum Seni Philadelphia. Bagi Johnston, potret ini mewakili martabat, tekad dan ketabahan dalam babak gelap sejarah Amerika.

“Orang-orang terkesan dengannya karena Anda melihat potret indah dari seorang lelaki yang tampaknya kaya, namun sebenarnya ia sendiri telah mengalami kondisi perbudakan yang tak menyenangkan,” kata Johnston.

Yarrow sangat dikenal masyarakat Georgetown kala itu. Ia merupakan pembantu Samuel Beall dan putranya Brooke, dua profesional berpengaruh yang sering bertemu dengan para tokoh seperti Presiden AS George Washington. Ia sering diingat sebagai orang yang ceria, rajin dan taat beragama, yang meluangkan waktu untuk salat lima kali setiap hari di mana pun dia berada.

Yarrow juga seorang wirausahawan yang bisa membaca dan menulis. Di Georgetown, para budak diperkenankan memiliki bisnis sampingan mereka sendiri, sehingga Yarrow menjadi seorang tukang bangunan. Bahkan, ia menjadi merdeka dengan membangun sebuah rumah untuk majikannya dan menabung uangnya untuk membangun rumahnya sendiri.

Fakta-fakta ini membuat Yarrow menjadi “catatan kaki penting” dalam sejarah, kata Amir Muhammad, direktur Museum Warisan Islam Washington.

“Ini menunjukkan pada orang-orang bahwa Muslim Amerika menjadi bagian sejak dari awal tatanan sosial Amerika. Ia adalah tokoh nyata, tidak hanya dalam lukisan tapi juga dalam usaha dan perbuatannya,” katanya.

Bagi arkeolog resmi Washington, Ruth Trocolli, setiap jejak arkeologis Yarrow membantu masyarakat lebih mengerti bagaimana para budak, khususnya yang Muslim, dulu menjalani hidup di sini.

“Ini adalah sebuah sumber data tentang Yarrow yang tak bisa kita dapat dengan cara lain,” kata Trocolli, yang sudah memulai misi investigasi pada lahan tanah tersebut pekan lalu.

Namun, upaya pemugaran ternyata cukup sulit. Beberapa tahun yang lalu, para arkeolog menemukan suatu permakaman kecil yang diisi kuburan lima orang Afrika Amerika dari zaman itu di tanah yang berbatasan dengan tanah Yarrow, namun tidak ada jasad yang cocok dengan gambaran Yarrow masa tua.

Rumah Yarrow dihancurkan lebih dari seabad yang lalu dan bangunan yang kini berada di lahan tersebut juga akan dihancurkan karena strukturnya tidak bagus. Sebuah kolam renang di halaman belakang menghambat usaha penggalian. Namun, Trocolli mempunyai harapan kalau bagian-bagian tanah Yarrow ini memuat fitur-fitur asli seperti sumur, kakus, gudang bawah tanah, atau kuburan Yarrow.

“Kisah Yarrow cukup penting,” kata Trocolli. “Ini sebuah kisah tentang seseorang yang sanggup bertahan. Ia seorang budak yang bisa memerdekakan diri.”

Awadallah mengaku jauh lebih tertarik dengan bisnis perumahan daripada benda sejarah, namun selaku seorang Muslim Amerika keturunan Palestina, ia mengakui proses eksplorasi membuatnya tergugah.

“Saya sudah tahu kalau ada para budak Afrika yang Muslim, tapi saya tidak tahu kalau mereka sangat dekat dengan rumah – hanya lima mil dari rumah saya di Falls Church, Virginia,” katanya. (MWP)


sumber:
http://www.commongroundnews.org/article.php?id=32350&lan=ba&sp=0

dilihat : 407 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution