Selasa, 17 Juli 2018 20:56:46 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 170
Total pengunjung : 406290
Hits hari ini : 1918
Total hits : 3704093
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -OKI galakkan diskusi agama dan politik di Mesir






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 19 November 2012 19:53:57
OKI galakkan diskusi agama dan politik di Mesir
Kairo – Ketika Ekmeleddin İhsanoğlu, Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam (OKI), mengunjungi Kairo minggu lalu, saya tak mau melewatkan kesempatan untuk meminta pendapatnya tentang situasi di Mesir sekarang. Khususnya, saya ingin mengetahui pendapatnya tentang berbagai kekhawatiran dan tantangan yang dihadapi Mesir dan rakyatnya sekarang ini: kembali ke otokrasi; hubungan dengan umat Kristen Koptik, minoritas agama terbesar di Mesir; dan peran agama dalam pemerintahan. Selaku perwakilan organisasi antar-pemerintah terbesar yang mencakup negara-negara mayoritas Muslim, pandangannya memiliki pesan diplomatik yang kuat, sekalipun OKI cenderung lebih lunak ketimbang yang lain.

İhsanoğlu ialah seorang diplomat dan akademisi Turki, yang dilahirkan, dibesarkan dan bersekolah di Kairo. Ia merupakan produk Mesir sesungguhnya. Sekembalinya ke Kairo setelah pergolakan 25 Januari yang menumbangkan kekuasaan Hosni Mubarak, ia pernah bicara ke saya dengan nada optimisme, meski sadar akan tantangan-tantangan yang ada di hadapan Mesir.

Dalam pikirannya, Mesir tetap dalam masa transisi, beralih dari “rezim otokratis, dan menuju aspirasi kekuasaan demokratis”. Namun, dalam kunjungannya, ia jelas amat berharap agar Mesir, rakyat-rakyatnya, “tak akan pernah menerima kembalinya otokrasi” apa pun bentuknya, bagaimanapun tekanan politiknya – sebuah pesan bagi semua politisi Mesir sekarang dan yang akan datang.

Selain kembalinya otokrasi di Mesir, dua kekhawatiran paling mengemuka di Mesir berkaitan dengan agama: situasi minoritas agama terbesar di Mesir, yaitu orang-orang Kristen Koptik; dan politik identitas agama. İhsanoğlu sadar dengan latar belakang sejarah masalah-masalah ini. Namun, ia melihat jauh ke depan untuk menemukan solusi.

Sejauh yang ia amati, tempat umat Kristen Koptik di Mesir tidak bisa diganggu gugat. Ia bicara tentang keadaan “modus vivendi” – sepakat untuk tak sepakat – antara umat Muslim dan umat Koptik. İhsanoğlu, yang mengakui bahwa pada akhir-akhir masa rezim sebelumnya, umat Koptik menghadapi “masalah-masalah besar”, menganggap paus terdahulu, Paus Shenouda, sebagai “orang bijak, berpengetahuan, dan seorang patriot Mesir”. Orang Koptik Mesir, sejauh yang İhsanoğlu tahu, adalah orang-orang Mesir yang menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia Arab, dan semestinya diperlakukan demikian, bukan sebagai unsur asing.

Namun, mungkin yang paling menarik adalah pandangannya tentang politik identitas agama dan sekularisme di Mesir dan dunia Muslim secara umum. Bicara sebagai individu dan intelektual, bukan sebagai perwakilan OKI, ia mengungkapkan harapan bahwa Muslim dapat menarik garis sehingga “politik tidak mendominasi agama, dan agama tidak mendominasi politik”.

Ia menjelaskan bahwa upaya ini seharusnya didasarkan pada “saling menghormati, serta saling tidak mencampuri” antara Islam sebagai agama dan tatanan politik Mesir. Pada saat yang sama, katanya, “bagi umat Muslim, alamiah saja kalau Islam memiliki pengaruh pada panggung politik dan publik.” Apa pengaruh itu, ia tidak jelaskan lebih lanjut, sehingga terbuka untuk berbagai penafsiran.

Namun, ia menegaskan bahwa lembaga-lembaga keagamaan di Mesir, dan di tempat lain, akan bisa berkembang sangat baik dalam “sekularisme gaya Anglo-Saxon” – suatu tipe sekularisme di mana “institusi-institusi keagamaan memiliki otonomi dan hubungan kerjasama dengan ranah publik, dan bukan terdominasi olehnya.” Ini mungkin mencerminkan sebuah pemikiran yang tak serupa baik dengan model sekularisme Prancis yang meminggirkan agama dari ruang publik, ataupun dengan pilihan Islamis yang menolak untuk mengakui keberadaan sekularisme sebagai sebuah model yang bisa Mesir terapkan.

Jarang kita memiliki kesempatan untuk berbicara dengan seorang intelektual, seorang akademisi ataupun seorang tokoh politik. Lebih jarang lagi jika ketiganya ada dalam diri satu tokoh. Kita berharap bahwa umat Muslim Mesir akan mempertimbangkan pendirian-pendiriannya menyangkut umat minoritas dan hubungan antara agama dan negara ini. Topik-topik ini tetap merupakan topik penting bagi Mesir, kawasan Arab dan dunia Islam yang lebih luas.(MWP)


sumber:
http://www.commongroundnews.org/article.php?id=32322&lan=ba&sp=0

dilihat : 399 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution